-->

Mengapa Tulisan Anda Monoton dan Bagaimana Menghindarinya

 

Urusan pertama dalam menulis adalah menghasilkan tulisan yang jernih dan ringkas. Setelah jernih dan ringkas, anda bisa mempertimbangkan gaya.


Kejernihan berurusan dengan cara anda menulis kalimat. Aturan standarnya, tiap-tiap kalimat dalam paragraf anda harus kalimat lengkap: Ia memiliki subjek dan predikat. Unsur bahasa lisan sering menyelinap ke dalam tulisan dan menyebabkan munculnya kalimat tidak lengkap (fragmentaris) di dalam tulisan itu. Kasus paling lazim adalah kalimat tanpa subjek. 


Kalimat fragmentaris tentu saja boleh, tetapi anda menggunakannya secara sadar dan untuk memperkuat efek tertentu.


*


Dalam bahasa Inggris, struktur paling sederhana untuk membuat kalimat lengkap adalah ‘Subject’ dan ‘Verb’ (kata kerja). Dalam bahasa Indonesia, Subjek dan Predikat. Predikat tidak selalu kata kerja, sebab untuk kasus-kasus tertentu kita menulis kalimat dengan menghilangkan kata “adalah” (padanan dari ‘to be’ dalam bahasa Inggris).


Orang Inggris menulis ‘She is happy’; kita tidak menulis ‘Dia adalah bahagia’, tetapi ‘Dia bahagia’. Ini menyebabkan predikat dalam kalimat itu bukan verba atau kata kerja, melainkan kata sifat.


*


Tulisan ringkas tidak berarti kalimat anda harus pendek-pendek. Itu dua hal yang berbeda. Keringkasan berurusan dengan bagaimana anda memilih kata, menyampaikan informasi, dan menawarkan gagasan dalam cara yang tepat saji.


Anda mungkin menyukai kalimat pendek, tetapi menggunakan kalimat-kalimat pendek saja untuk semua paragraf sepanjang tulisan akan membuat tulisan anda monoton. Sebaliknya, menggunakan kalimat-kalimat panjang saja akan membuat tulisan anda lebih sulit dicerna dan melelahkan.


*


Untuk menghindari monotoni, anda variasikan saja panjang pendek kalimat-kalimat anda, sehingga tulisan anda memiliki ritme dan alur. Ini akan membuatnya lebih menyenangkan untuk dibaca, asalkan anda mempertahankan kejelasan dan keringkasan.


Jika anda tidak mampu menulis ringkas, anda pasti bertele-tele, tidak mempertimbangkan proporsi, mungkin kehilangan fokus, dan itu tidak bagus, kecuali anda memang berniat menyiksa pembaca.


Selain panjang pendek kalimat, hal lain yang membuat tulisan anda monoton adalah kosakata anda terbatas, sehingga anda cenderung menggunakan kata yang sama berulang-ulang, dan struktur kalimat anda tidak bervariasi. Jika anda mengalami gejala tersebut, obat mujarabnya hanyalah banyak-banyak membaca. Membaca akan memperkaya kosakata anda dan membuat anda berkenalan dengan berbagai variasi kalimat bagus—jika anda membaca tulisan bagus.[] 

Sumber Facebook : AS Laksana 

Menulis sebagai Meditasi Sehari-hari

 

KETIKA anda diliputi kemarahan dan tidak tahu harus berbuat apa, anda bisa berada dalam bahaya. Kemarahan adalah salah satu emosi terkuat. Ia bisa membuat pikiran anda lepas kendali dan anda akan memikirkan segala hal yang telah membuat anda marah selama bertahun-tahun. Anda akan berpikir tentang betapa tidak adilnya bahwa anda harus menerima perlakuan itu, betapa brengseknya orang-orang di sekitar anda, dan betapa memuakkan semua yang ada di sekeliling anda.


Yang terburuk adalah anda mulai berpikir untuk membalas dendam—dengan cara menyakiti orang yang telah mempermalukan anda, menyerang anda, atau melukai perasaan anda. Jika anda betul-betul melampiaskan dendam, anda akan berurusan dengan hukum. Jika anda tidak melampiaskannya, keinginan itu akan menghantui anda terus-menerus, dan yang akan menjadi korban seringkali adalah orang-orang terdekat anda sendiri. Dalam interaksi anda dengan mereka, anda akan menjadi petasan yang mudah meledak.


Tetapi bagaimana jika ada cara yang lebih baik?


Bagaimana jika anda bisa menggunakan kemarahan dengan cara yang positif? Bagaimana jika anda dapat menggunakan amarah untuk membantu diri sendiri meraih hal-hal yang anda inginkan? O, itu jelas lebih baik ketimbang membiarkan amarah mengendalikan anda.


*


Sesuai judul tulisan ini, kita akan menggunakan tulisan sebagai cara meditasi untuk mengatasi perasaan-perasaan negatif—dalam contoh ini kemarahan. Anda bisa menulis surat kepada diri sendiri. Itu akan menjadi meditasi sehari-hari yang menyenangkan.


Menulis surat kepada diri sendiri membantu anda mengungkapkan emosi secara jujur tanpa perlu khawatir terhadap reaksi orang lain. Tidak akan ada yang menilai anda atas apa yang anda sampaikan. Surat tersebut hanya urusan antara anda dan diri anda sendiri.  


*


Dear Sulak, 


Aku menulis surat ini untukmu karena aku tahu kamu sedang marah. Dadamu sesak. Napasmu tersengal-sengal. Pikiranmu kalut. Sejak kejadian itu sampai sekarang kamu masih memikirkan orang itu. Aku tidak akan menasihatimu. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku memahami situasimu, dan mungkin aku bisa membantumu menemukan cara untuk mengatasi kemarahanmu. 


Mudah-mudahan kamu masih ingat apa yang pernah disampaikan ayah kita bahwa jika kamu marah, yang pertama kali perlu kamu lakukan adalah membasuh wajahmu dengan air. Jadi, lain kali jika perasaan itu muncul, ambil air dan basuh wajahmu. Setelah itu kamu bisa duduk dan menarik napas dalam-dalam, rileks, dan cukup merasakan saja keluar masuknya udara, merasakan dadamu mengembang dan mengempis.


Tentu saja kamu berhak marah. Kemarahan menandakan bahwa kamu normal, memiliki emosi yang lengkap dan semuanya berfungsi sempurna.


Tetapi kamu juga berhak menikmati pikiran tenteram. Orang lain boleh bertingkah apa saja, itu masalah dia dengan dirinya sendiri, dan kamu berhak menikmati ketenteraman pikiranmu. Dia menjadi baik atau menjadi buruk, itu urusan dia sendiri. Kamu memiliki urusan penting dengan dirimu sendiri.


Jika kamu sanggup memaafkan dia, maafkan. Jika kamu tidak sanggup, lupakan. Jika dia membencimu seumur hidup, itu masalah dia sendiri. Tetapi jika dia terus menekanmu, hadapi dia. Tatap matanya. Itu rahasia menghadapi monster: Tatap matanya. Dalam kasus semacam itu—maksudku jika dia menekan—kamu lari tidak akan menyelesaikan masalah. Dia akan terus memburumu.


Maka, hadapi dia dan tatap matanya.


Kurasa itu dulu. Besok aku menulis lagi, jika kamu belum bisa meredakan kemarahan. Aku akan senang hati membantumu menemukan cara untuk menjadikan pikiranmu tenteram. Itu milikmu yang paling berharga dan kamu berhak memelihara ketenteramannya.


Aku pamit. Jika kamu belum benar-benar lega, ingatlah bahwa aku menyayangimu, sebab aku bagian terbaik dirimu.


Salam,

Kembaranmu


*


Teman-teman, ini kelas baru yang akan dimulai Senin, 28 November 2022. Saya menamainya “Menulis sebagai Meditasi Sehari-hari”—kelas ini untuk siapa saja, dan dengan harga sangat murah agar lebih banyak yang berkesempatan mengaksesnya.


Di kelas ini saya memperkenalkan metode menulis surat kepada diri sendiri sebagai bentuk meditasi. Surat di atas adalah contoh bagaimana kita menyapa diri sendiri, bercakap-cakap dengan diri sendiri, untuk mengatasi satu bentuk emosi negatif.


Mungkin anda perlu menyapa diri sendiri. Ia orang paling dekat dengan anda, yang justru paling jarang, atau mungkin tidak pernah, anda sapa selama ini.


Kelas ini berisi 30 materi, yang akan dikirimkan melalui email setiap hari selama 30 hari. Untuk setiap materi, saya akan menyertakan contoh surat kepada diri sendiri, sebentuk percakapan akrab antara anda dan kesadaran anda (sebagaimana surat contoh di atas).


Surat-surat kepada diri sendiri itu akan mencakup topik-topik antara lain:

- Mengatasi kemarahan

- Mengatasi ketakutan

- Mengatasi kecemasan

- Mengatasi kesedihan

- Mengatasi trauma

- Mengatasi keputusasaan

- Mengatasi kebencian

- Mengatasi perasaan kehilangan

- Mengatasi situasi yang seolah-olah tanpa jalan keluar

- Mengatasi kemalasan

- Menyingkirkan penundaan

- Mendorong diri agar lebih produktif

- Menjernihkan pikiran

- Bahkan anda bisa bercakap-cakap dengan diri sendiri untuk membicarakan situasi kesulitan finansial, jika anda mengalaminya.

- Berterima kasih kepada diri sendiri

- Dan lain-lain


Pada bagian-bagian akhir, saya menyertakan materi “Mengubah kemarahan dan perasaan-perasaan negatif menjadi cerita”.


Kepada mereka yang tidak bisa mengikuti kelas-kelas saya sebelumnya dan mengatakan, “Saya ikut pada kesempatan lain, Mas. Saya harus nabung dulu,” saya berjanji membuat kelas yang semoga cukup ringan bagi mereka untuk bergabung.


Jika anda berminat, biaya untuk kelas ini hanya Rp150 ribu.


Sila transfer ke BCA no 566.006.9714 an. Eka Sulistyawati, atau Mandiri no 164.000.009.5804, atau ke BNI no 152.229.8041 an. A.S. Laksana.


Setelah itu, beritahukan:


Nama anda: ...

Alamat email: ...


Konfirmasikan ke Raya di no WA: 0813.2295.4123. 


Mudah-mudahan kelas “Menulis sebagai Meditasi Sehari-hari” ini cocok sebagai persiapan anda menyambut tahun baru 2023. 


Salam,

A.S. Laksana

Mengapa Tulisan Anda tidak Berkembang?


A.S. Laksana


Ada sejumlah alasan mengapa tulisan anda tidak kunjung membaik. Beberapa penyebabnya antara lain:


1. Anda kurang membaca.


Anda gagal menulis bagus karena kurang membaca. Membaca adalah cara yang tak tergantikan bagi siapa pun yang ingin menulis bagus. Membaca membantu anda mengembangkan kosakata, membantu anda meningkatkan keterampilan tata bahasa, dan memberikan banyak contoh bagaimana para penulis bagus mendayagunakan kemahiran berbahasa untuk melahirkan ekspresi-ekspresi artistik.


Tetapi membaca saja tidak cukup. Anda perlu membaca aktif dan kritis. Itu berarti mencari hal-hal yang dilakukan secara baik oleh penulis lain, bertanya kepada diri sendiri mengapa ia berhasil, dan menerapkan hasil pembelajaran itu untuk tulisan anda sendiri. Dengan kata lain, membaca membantu anda mempelajari bagaimana para penulis bagus melakukan apa yang mereka lakukan—dan itu akan mengilhami anda untuk menemukan cara anda sendiri.


Jika anda kurang membaca, anda rentan terjangkit delusi: Anda akan menganggap apa saja yang muncul di benak anda sebagai ide cemerlang.


2. Anda tidak tahu kenapa sebuah tulisan menjadi bagus dan kenapa menjadi buruk.


Jika anda kurang paham baik dan buruk, bagaimana anda bisa menilai tulisan anda sendiri? Jalan menjadi mahir, dalam berbagai bidang, adalah mengkopi kemahiran para pendahulu, orang-orang yang mengerjakan urusan dalam cara sebaik-baiknya, dan menjadikan semua itu milik anda sendiri—bagian dari suara kepenulisan anda. Bagaimana anda tahu apa yang bisa ditiru dan apa yang tidak boleh ditiru? Bagaimana anda akan belajar dari kesalahan dan keberhasilan penulis lain?


3. Anda tidak sungguh-sungguh melatih diri.


Anda tidak melatih otot-otot imajinasi anda. Jika anda ingin menulis bagus, anda perlu melatih otot-otot itu secara teratur. Karena itu anda perlu menulis setiap hari, menjadikannya sebuah rutin, tetapi anda tidak bisa hanya menulis begitu-begitu saja setiap hari. Ingat poin #2. Anda harus memahami kualitas tulisan. Ini berarti lebih dari sekadar menuliskan ide ketika muncul di kepala anda. Anda perlu memperbaiki pengetahuan terus-menerus, selain menulis setiap hari. Anda perlu mencoba teknik-teknik baru, hal-hal baru, dengan kata-kata anda, dengan kalimat anda, dengan cara penceritaan anda. Bermain-mainlah dengan gaya sampai anda menemukan bentuk yang elegan milik anda sendiri.


4. Anda tidak sabar.


Menulis membutuhkan waktu. Jika tujuan anda adalah menjadi penulis bagus secepat mungkin, percayalah bahwa tidak ada jalan untuk menipu kenyataan bahwa hal itu akan memakan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun sebelum anda melihat peningkatan besar dalam kemampuan menulis anda. Itu pun jika anda tahu bagaimana cara belajar.


5. Tulisan anda membosankan


Efek langsung dari tidak tahu baik dan buruk adalah tulisan anda membosankan. Anda mungkin menulis setiap hari, tetapi tulisan anda hanya berupa jajaran kalimat. Anda asyik sendiri, melantur tidak karu-karuan, merasa bahwa semua yang anda pikirkan penting bagi pembaca. Jika anda seperti itu, nasihat Don Vito Corleone penting anda ingat: “Santino, tidak semua isi pikiranmu perlu diketahui orang lain.”


Cerita yang membosankan adalah petunjuk bahwa penulisnya tidak betul-betul memahami cara kerja fiksi. Mungkin anda hanya menyampaikan informasi-informasi tentang kejadian. Itu bukan cerita; itu laporan jurnalistik. Cerita adalah tentang karakter, kondisi mereka, dan perjuangan mereka, bukan hal-hal yang terjadi di sekitar mereka.


Dari sisi pendayagunaan bahasa, penulisan fiksi jauh lebih rumit ketimbang nonfiksi. Ada banyak aspek yang masing-masing perlu anda kuasai sebaik mungkin untuk menulis fiksi yang baik. Dalam nonfiksi, yang diperlukan adalah kejernihan dan penyajian yang elegan, dan, tentunya, anda punya sesuatu yang berharga untuk disampaikan. Di Indonesia, doktor yang kualitas tulisannya seimbang antara fiksi dan karya-karya akademisnya adalah Pak Kuntowijoyo.[]


Mahabharata (7) TIGA PUTRI KASI

 



Oleh: A.S. Laksana 

.

Seribu raja dan pangeran berkumpul di balairung swayamvara, di antara karangan bunga, di bawah lengkungan warna-warni, diselimuti harum melati. Tiap-tiap orang berharap salah satu putri Kasi akan memilihnya. Mereka bercakap-cakap dalam bisikan, dan tertawa lirih dalam suara yang menyiratkan kecemasan.


Amba, Ambika, dan Ambalika duduk di samping ayah mereka, dalam pakaian pengantin, dengan wibawa dan keanggunan yang membuat para raja dan pangeran di balairung saling menakar siapa tiga orang di antara mereka yang paling layak bagi putri-putri itu. Para pendeta istana menunggui jam air, siap mengumumkan waktu yang tepat untuk menyerahkan untaian bunga kepada para putri, dan selanjutnya masing-masing putri akan mengalungkan untaian bunga itu kepada raja atau pangeran yang ia pilih sebagai suami. Karena itulah upacara tersebut dinamai swayamvara, sebab seorang perempuan memilih sendiri (swayam) mempelai lelaki atau ‘vara’-nya.


Saatnya telah tiba bagi putri tertua, Amba, untuk menerima untaian bunga dan mengalungkannya kepada lelaki yang ia pilih, dan ia sedang melangkah ke arah lelaki itu ketika terdengar derap kuda memasuki halaman balairung. Suasana hening dan tegang ketika mereka melihat siapa yang turun dari kereta: Dewabrata dari Hastina, lelaki yang diberi nama Bhisma oleh para dewa karena sumpahnya. Ia masih sangat tampan pada usianya yang sudah di atas lima puluh tahun, dan ia datang ke swayamvara.


Salah seorang dari mereka berteriak mencibir kedatangannya: “Anda datang terlambat, Dewabrata. Kami bisa paham jika anda tidak kuat menanggung sumpah anda sendiri dan membatalkannya, tetapi apakah anda tidak merasa terlalu tua untuk swayamvara ini?”


Cibiran itu diikuti suara tawa menggelegar dari balairung. Putra Gangga menoleh ke arah lelaki yang mencibirnya dan memandanginya lekat-lekat, dan kemudian menyapukan pandangannya kepada semua orang di balairung, seolah-olah ia dewa kematian yang datang untuk mencabut nyawa semua lelaki di tempat itu. Mereka berhenti tertawa seketika.


"Aku datang tepat waktu," kata Bhisma.


Amba mematung di depan mempelai pilihannya, raja Salwa. Ia telah mengangkat tangannya untuk mengalungkan untaian bunga ke leher lelaki itu ketika Bhisma menyambarnya, lalu kedua adiknya, lalu membawa mereka bertiga ke dalam keretanya. 


Dari kereta ia berteriak kepada para lelaki yang menjadi linglung oleh kejadian yang berlangsung cepat di hadapan mereka: “Aku datang untuk adikku! Para putri ini akan menjadi ratu di Hastinapura. Hadapi aku, Ksatria, tunjukkan keberanian kalian.”


Segera setelah itu ia melarikan keretanya meninggalkan mereka. Pada masa itu, kehormatan bernilai jauh di atas nyawa. Masing-masing dari mereka tahu bahwa tidak ada satu orang pun di balairung itu yang sanggup menghadapi Bhisma, tetapi mereka tidak akan membiarkan martabat mereka direndahkan begitu rupa tanpa memberi perlawanan. Mereka melesat mengejar Bhisma, tanpa menduga bahwa Bhisma akan membalikkan arah keretanya untuk menyongsong mereka.


Dewabrata mampu membendung arus Gangga dengan anak panahnya ketika remaja. Sekarang, dalam puncak kehebatannya, sebagai Bhisma, ia tidak mungkin tertandingi oleh mereka, bahkan sekalipun mereka maju bersama-sama. Dengan satu tarikan, ia menghujani mereka dengan badai anak panah. Kereta-kereta hancur. Para raja dan pangeran rubuh, baju zirah mereka tertembus mata panah.


Namun ada satu yang memberi perlawanan sengit kepada Bhisma. Raja Salwa. Amba telah memilihnya, hanya belum sempat mengalungkan untaian bunga ke lehernya, dan Salwa bertekad mendapatkan kembali mempelai perempuan yang direnggut darinya. Dalam pertarungan itu, ia berhasil menancapkan tiga anak panah ke tubuh Bhisma. 


Putra Gangga mengaum setelah mencabut ketiga anak panah itu dan dalam sekejap ia menghancurkan kereta Salwa. Amba memejamkan mata dan berdoa untuk keselamatan lelaki pilihannnya, yang terlontar dari kereta dan sekarang tak berdaya di hadapan Bhisma. Hanya sorot matanya yang masih memberikan perlawanan: Mata itu menatap Bhisma penuh kebencian. Bhisma meninggalkannya; ia tidak membunuh orang yang sudah tidak berdaya.


*


Kereta berjalan pelan-pelan ketika memasuki Hastinapura dan orang-orang berhamburan keluar dari rumah untuk menyambut kedatangan Bhisma. Mereka ingin melihat apa yang dibawa oleh Putra Gangga. Mereka bersorak ketika melihat tiga orang putri di dalam keretanya. Ambika dan Ambalika, dalam paras malu-malu, menyambut lambaian tangan orang-orang yang berkerumun di tepi jalan dengan senyum tertahan, tetapi mereka menikmati. Kedua putri itu telah menyaksikan pertempuran para ksatria, satu melawan seribu, demi mendapatkan mereka. Dan kini lelaki paling perkasa telah memboyong mereka, seorang ksatria yang dicintai oleh semua orang di negerinya, yang kedatangannya disambut dengan sukacita, dan mereka berada di dalam kereta bersamanya.

 

Orang-orang Hastinapura menanyakan nama mereka dan menyebut mereka ratu. Ambika dan Ambalika merasa senang dipanggil ratu dan mereka meyakini, saat itu juga, bahwa Hastinapura adalah kota takdir mereka. Senyum mereka tak lagi tertahan. Mereka tersenyum ramah kepada orang-orang dan melambaikan tangan sepanjang jalan. Amba tidak. Putri tertua Kasi itu hanya menundukkan kepalanya.


Bhisma bergegas ke ruangan Satyawati begitu kereta berhenti di istana; ketiga putri mengikutinya. Satyawati membuka pintu kamarnya setelah ketukan Bhisma.


“Siapa mereka, Dewabrata?”


“Menantumu, Ibu. Putri-putri Kasi.”


Mereka maju dan berlutut menyentuh kaki Satyawati. Ibu suri tertegun melihat kecantikan mereka. “Berdirilah,” katanya. Ia menyentuh bahu mereka satu demi satu.


Kepada seorang penjaga, Bhisma memberi perintah, “Katakan kepada raja bahwa ibu memanggilnya.” 


Wicitrawirya tiba dan pandangan pertamanya langsung tertuju kepada Amba, Ambika, dan Ambalika, dan kemudian ia berlutut di kaki Bhisma. Bhisma mengangkatnya berdiri dan mereka berpelukan. Wicitrawirya merasakan darah di dada kakaknya, darah dari tiga lubang bekas tusukan panah Salwa.


“Engkau terluka,” kata Wicitrawirya.


“Hanya goresan kecil,” kata Bhisma.


“Ibu, cepat ambilkan air hangat dan ramuan.”


Wicitrawirya membalut luka kakaknya dan mengobatinya dengan ramuan yang dibawa oleh pelayan ibunya. Ketika ia selesai, sebuah suara lirih dan gemetar terdengar dari arah belakangnya: “Saya mohon izin untuk bicara.”


Itu suara Amba.


Bhisma mengangkat muka ke arahnya. “Bicaralah, Putri. Tidak perlu takut. Ini rumahmu sekarang.”


Amba diam beberapa saat, mengumpulkan keberanian untuk mengeluarkan apa yang menyesaki dadanya. “Ketika tuan Bhisma datang ke swayamvara dan kemudian membawa kami, sebetulnya saya sedang hendak mengalungkan untaian bunga ke leher raja Salwa. Saya telah memilih dia menjadi suami saya.”


"Kenapa tidak memberi tahu aku soal itu?” kata Bhisma. “Kamu hanya diam, bahkan ketika aku bertarung melawan Salwa.”


"Keberanian saya hilang, Tuan Bhisma. Ketika Tuan bertarung dengannya, saya tahu dia tidak mungkin menang. Tapi tidak mungkin juga saya memohonkan belas kasih untuknya. Maka saya hanya bisa berdoa agar dia tidak celaka, dan saya berterima kasih bahwa Tuan tidak membunuhnya.”


Mendengar itu, Wicitrawirya segera membuat keputusan: "Tidak mungkin aku menikahi perempuan yang telah memberikan hatinya kepada orang lain.”


Bhisma lega mendengar ucapan adiknya. Dan kepada Amba ia berkata lembut: “Pulanglah kepada Salwa. Rumahmu di sana.” Lalu ia memanggil penjaga dan memberi perintah: “Siapkan pengawal untuk Putri Amba. Antar dia dengan keretaku sendiri ke tempat raja Salwa.”


Untuk kali pertama, senyum bahagia muncul di wajah cantik Amba, seperti cahaya pagi. Ia berterima kasih kepada Bhisma, mendoakan kejayaan Hastina, dan memohon berkah dan restu kepada Satyawati. Dalam pengawalan para prajurit kerajaan, Amba meninggalkan Hastina untuk menjumpai mempelai lelakinya, dengan sukacita, tanpa menyadari betapa singkat umur kegembiraannya.[]

Memasuki Masa Gelap Mahabharata (6)

 



Oleh: A.S. Laksana


Perkawinan dengan Satyawati menjadi berkah masa tua bagi Santanu. Ia telah menjalani masa-masa pedih dalam perkawinannya dengan Gangga, takdir yang harus ia tempuh sebagai titisan Mahabhiseka, raja yang dihukum oleh para dewa, dan dua puluh tahun hidup selibat selama menantikan istrinya muncul lagi untuk menyerahkan putra mereka, dan kini Satyawati, si putri nelayan, memberinya rasa bahagia dengan kesederhanaannya yang liar, pembawaannya yang penuh gairah, dan harum surgawi yang memancar dari tubuh gelapnya.


Seperti tidak ingin menyia-nyiakan waktu, Santanu menggunakan sisa umurnya untuk Satyawati dan menyerahkan kuasa pemerintahan kepada putranya, sehingga rakyat Hastina, meski tidak pernah melihat Bhisma dinobatkan sebagai raja, tetap merasakan kepemimpinan Putra Gangga, raja Hastina tanpa mahkota, yang memerintah kerajaan atas nama ayahnya.


Dua putra lahir dari Satyawati, yang diberi nama Citranggada dan Wicitrawirya, dan Bhisma mengasuh kedua adik tirinya dengan rasa cinta seolah-olah mereka anak-anaknya sendiri. Ketika Citranggada memasuki usia dewasa, Bhisma menobatkannya sebagai yuwaraja, dan ia memerintah Hastina atas nama adiknya, dan tak lama setelah itu raja Santanu meninggal.


Citranggada memerintah Hastina hanya sebentar. Ia tumbuh menjadi ksatria perkasa di bawah asuhan Bhisma, dan berhasil memperluas wilayah Hastina dengan beberapa penaklukan, tetapi nasib seolah-olah membenci kemakmuran Hastina di bawah Bhisma dan kejayaannya di bawah Citranggada. 


*


Masa gelap Hastina dimulai dengan kemunculan sesosok gandarwa di depan gerbang perbatasan. Ia turun dari langit menembus kabut tipis pagi hari, meniup seruling tanduknya, dan mendekati penjaga gerbang setelah menyelesaikan lagunya, dan kepada penjaga gerbang ia menyampaikan tantangannya untuk raja Hastina.


"Aku Citranggada,” katanya, “datang untuk menemui orang yang telah mencuri namaku. Aku tahu orang itu rajamu. Katakan aku menunggunya. Jika dia ksatria, dia akan keluar dan bertarung denganku, dan salah satu dari kami akan mati. Katakan padanya hanya ada satu Citranggada yang akan hidup untuk melihat matahari terbenam hari ini.”


Penjaga itu takjub dan gemetar melihat penampilan sosok di hadapannya. Gandarwa adalah dewa penghuni kahyangan yang turun-temurun menjalankan peran mereka sebagai pemusik. Gandarwa bernama Citranggada ini bertubuh tinggi melebihi tinggi semua manusia; wajahnya tampan, matanya tajam, dan rambutnya sebahu berwarna hitam kebiruan. Dengan tubuh memancarkan cahaya, ia seperti makhluk yang tak terjamah, seperti sosok dalam mimpi.


Bhisma sedang jauh dari ibukota, mengunjungi wilayah kerajaan yang paling terpencil. Penjaga gerbang menemui raja, menggambarkan penampilan sang gandarwa, dan memohon agar raja tidak usah meladeni tantangannya, dan ia merasa keliru ketika raja Citranggada menanggapi ucapannya dengan sorot mata yang membuat tubuhnya terasa lumpuh seketika.


Citranggada telah mendengar kisah-kisah menakjubkan tentang para gandarwa. Mereka penghuni dewaloka, mereka sakti, dan mereka tak bisa mati. Dan gandarwa itu mengatakan salah satu dari mereka harus mati. Citranggada tidak membuat pertimbangan apa pun. Ia perkasa di antara para manusia, dan ia mendapatkan tantangan. Maka, demi kehormatannya sebagai ksatria, ia harus menerima tantangan itu.


Sang gandarwa bersiul-siul selama menunggu; tubuhnya menjulang seperti pohon, dan siulnya terdengar seperti kicau ribuan burung, seperti suara alam liar, seperti musik yang pertama kali diciptakan: musik para dewa. Ketika ia melihat putra Satyawati muncul dari gerbang kerajaan, wajahnya tampannya berubah menjadi hitam.


"Bocah!” katanya. “Kamu sudah berani mengambil nama Citranggada, yang telah menjadi milikku selama ribuan tahun. Itu lebih buruk ketimbang mencuri emas, atau permata, atau bahkan tahta kerajaan. Sekarang berlututlah di depanku dan mohon maaf dan aku akan memilihkan untukmu nama baru, jika kamu mau. Itu terserah kamu, tetapi, yang terpenting, tanggalkan saat ini juga nama Citranggada. Tidak ada gunanya nama itu bagimu jika hari ini juga kamu mati.”


Terbakar oleh penghinaan itu, putra Satyawati melupakan siapa yang ia hadapi, dan membalas dengan ucapan yang sama kasarnya:


“Kudengar kamu sudah hidup beribu-ribu tahun, Gandarwa, dan selama itu hidupmu sia-sia. Aku Citranggada, raja Hastina, tidak pernah mengenal Citranggada yang lain. Jika kamu hendak melawanku demi nama, dan karena kamu sudah bosan hidup tanpa guna, aku akan berbaik hati mengantarmu kepada kematian.”


Mereka bertarung di tepi sungai Hiranyawati yang membelah tegal Kuruksetra, lapangan yang kelak menjadi ajang perang besar Bharatayudha, dan mata manusia tak akan sanggup mengikuti gerak kedua Citranggada itu. Pertarungan mereka hanya tampak seperti pusaran angin topan, dan baru mereda menjelang senja ketika belati perak sang gandarwa menembus jantung sang raja. Langit dan tanah berwarna merah. Putra Satyawati tersungkur.


Sang gandarwa membersihkan belati peraknya dan menyelipkan senjata itu ke sarungnya di pinggang dan terbang kembali ke kahyangan sambil bersiul-siul, meninggalkan Hastinapura kehilangan raja, mengubah takdir negeri itu ke arah gelap.


*


Bhisma terpukul oleh kematian Citranggada. Ia menyayangi adik tirinya itu dan mengasuhnya seperti ayah mengasuh putranya. Ia mempersiapkan Citranggada menjadi raja Hastina, mengajarinya memanah, Weda, pemerintahan, dan apa saja yang perlu dikuasai oleh putra mahkota. Citranggada juga mencintainya; Bhisma bisa merasakan itu. Adiknya memperlihatkan kesungguhan mempelajari apa saja yang ia ajarkan, dan ia tahu bahwa Citranggada selalu menaruh hormat terhadap kerelaannya melepaskan tahta.


Sekarang, mimpinya untuk menjadikan Citranggada raja besar hancur. Yang tersisa hanya guci abu, dan Bhisma sendiri yang menaburkan abu adiknya ke Gangga, dan arus tenang sungai itu membawa abu Citranggada ke laut, dan segala sesuatu harus dimulai dari awal lagi. Ia mempersiapkan Wicitrawirya, kembali memerintah Hastina mewakili adiknya, tetapi putra kedua Satyawati tidak seperti kakaknya.


Ia tidak berminat menjadi raja, dan tampaknya tidak berminat untuk banyak hal lainnya. Tetapi Bhisma tetap menobatkannya menjadi raja ketika waktunya tiba bagi Wicitrawirya untuk menjadi raja. Ketika Satyawati berpikir sudah saatnya bagi raja untuk mengambil permaisuri, Wicitrawirya tidak menunjukkan minat terhadap perempuan mana pun untuk dipinang sebagai permaisuri.


Pada saat itu, raja negeri Kasi hendak mengadakan swayamvara untuk ketiga putrinya, Amba, Ambika, dan Ambalika. Para putra mahkota dan raja muda dari negeri-negeri lain diundang, dan mereka akan berdiri berjajar, dan ketiga putri raja akan mengalungkan untaian bunga di tangan mereka kepada lelaki yang mereka pilih sebagai suami. Raja Hastina, yang masih muda dan belum beristri, tidak diundang.


Bhisma memaknai hal itu sebagai penghinaan, tidak hanya terhadap Hastina, tetapi juga terhadap dirinya, dan terhadap ibu tirinya. Kasi tidak sebesar Hastina dan selama ini kedua negeri berhubungan baik. Tidak mengundang Wicitrawirya dalam swayamvara berarti raja Kasi sengaja menutup mata terhadap dirinya, merendahkan adiknya hanya sebagai anak nelayan, dan menganggap Hastina tidak pernah ada.


Pada hari swayamvara, putra Gangga pamit kepada Satyawati dan ia berangkat pagi-pagi menuju Kasi--dengan amarah.[]

| 12:00 AM |

Melamunkan Partai Indonesia Membaca

 


AS Laksana 


Ada satu peribahasa yang membuat saya merasa putus asa pada diri sendiri dan suka melamun di masa kecil: "Mens sana in corpore sano." Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat.


Tubuh saya kurus, dengan batang-batang tulang yang menjulur seperti ranting, dan berat badan hanya 25 kilogram pada waktu kelas lima SD. Mungkin naik sedikit pada waktu kelas enam, atau mungkin turun sedikit, saya tidak yakin.


Saya tidak pernah menimbang badan lagi setelah kelas lima dan benci pada tukang timbang badan keliling yang sesekali lewat di kampung kami. Ibu-ibu suka menghentikan tukang timbang badan, memeriksa berapa berat badan mereka, dan menyuruh anak-anak mereka menimbang badan sekalian. Saya sembunyi ke belakang rumah.


Secara keseluruhan penampilan saya tampak seperti kanak-kanak yang selalu cacingan pada segala musim. Kadang-kadang terserang biduren--itu kesempatan untuk terlihat sedikit gemuk, yakni ketika bentol-bentol sudah merata di sekujur tubuh dan rasa gatalnya agak mereda.


Kondisi seperti itu membuat saya berpikir bahwa tubuh saya tidak sehat; dengan demikian jiwa saya juga tidak sehat. Saya meyakini kebenaran mens sana in corpore sano sebagaimana saya mempercayai bahwa tetangga sebelah rumah pernah dililit hantu dan ditidurkan di dahan pohon sukun, sama persis dengan orang-orang dari masa pra-ilmiah yang meyakini bahwa bumi itu datar.


Keputusasaan terhadap tubuh sendiri membuat saya mengagumi tentara. Tubuh mereka sehat dan kekar, pasti jiwa mereka juga sehat dan kekar. Kelak, semasa kuliah di Yogyakarta, saya meralat keyakinan kanak-kanak itu ketika menyaksikan sekawanan tentara Orde Baru bertindak ganas memukuli para demonstran. Pikir saya, jiwa mereka mungkin tidak sesehat tubuh mereka.


Selama saya meyakini peribahasa itu, yang bisa saya lakukan hanya melamun. Dan saya melamunkan apa saja. Saya membayangkan diri sehebat Napoleon Bonaparte, orang Perancis dengan postur seperti penguin yang gemar melakukan penaklukan. Riwayat orang ini saya baca dari buku pelajaran sejarah SMP milik paman saya.


Saat membaca Sherlock Holmes, saya membayangkan diri sebagai Sherlock. Saya pikir akan menyenangkan sekiranya saya memiliki kecerdasan seperti detektif itu. Dengan memperhatikan tanah yang melekat pada sandal seseorang, saya bisa langsung tahu apakah ia baru pulang dari kuburan atau dari rumah seorang dukun.


Saya membayangkan diri sebagai Mahesa Jenar ketika membaca cerita silat S.H. Mintardja "Nagasasra Sabuk Inten", lalu menggambar sendiri jurus-jurus maut di buku notes Pramuka dan memendamnya di bawah pohon jarak di pekarangan belakang rumah. Lain waktu saya membayangkan diri sebagai ilmuwan yang kelak menemukan bahan bakar baru dari air dicampur serbuk kimia, membayangkan diri pergi ke kutub selatan, merasa sedih oleh nasib buruk yang dialami Pangeran Monte Cristo, dan sebagainya.


Setiap kali membaca buku, saya melamun. Mungkin jiwa saya memang tidak sehat.


Akhirnya, ketika masuk SMA, saya melakukan tindakan revolusioner untuk menyehatkan tubuh, dengan tujuan akhir jiwa saya ikut sehat juga. Maka, saya membuat sendiri barbel dari dua kaleng cat tembok diisi adonan semen dan pasir. Berat sekali untuk mengangkatnya, tetapi saya merasa agak berhasil memperbaiki otot-otot lengan.


Berat badan saya naik menjadi 49 kilogram ketika lulus SMA dan saya mampu mempertahankannya selama masa kuliah--kadang-kadang turun tetapi saya selalu berhasil mengembalikannya lagi. Saat meninggalkan Yogyakarta menuju Jakarta, saya tetap berhasil mempertahankannya 49 kilogram itu. Yang tidak berhasil saya singkirkan adalah kebiasaan melamun.


Sekarang, ketika putus asa mengenai rendahnya minat baca masyarakat Indonesia, saya kembali melamun membayangkan alangkah baiknya jika gemar membaca bisa didorong menjadi sebuah gerakan politik.


Saya pikir tidak cukup jika ia sekadar menjadi gerakan kultural, yang dijalankan oleh para aktivis pecinta buku semampu mereka. Saya menghormati idealisme mereka yang sebesar gunung Semeru, tetapi, tanpa dukungan politik, gerakan kultural hanya akan serupa dengan upaya seorang diri untuk mendorong bis mogok.


Sebagai gerakan politik, ia tentu akan mengajukan tuntutan-tuntutan politik agar pemerintah membuat kebijakan yang mampu mewujudkan masyarakat gemar membaca. Saya bayangkan tuntutannya kurang lebih seperti ini:


1. Meminta pemerintah memperbaiki sistem pendidikan sehingga sekolah-sekolah akan menghasilkan lulusan yang mampu menggunakan akal dan gemar membaca buku.


2. Ada perpustakaan di setiap desa, dengan koleksi buku-buku bagus.


3. Menekan pemerintah agar menerjemahkan secara besar-besaran buku-buku penting dan karya-karya sastra terbaik dari berbagai negara di lima benua. Ini penting karena kegemaran membaca akan lebih mudah diwujudkan ketika kita bisa menemukan bacaan-bacaan bagus secara mudah.


Saya agak beruntung pada saat mulai senang membaca ada penerbit Pustaka Jaya, didirikan oleh Ajip Rosidi, yang bersemangat menerbitkan terjemahan karya-karya sastrawan besar, dengan para penerjemah yang menguasai bahasa Indonesia secara baik, di antaranya Sapardi Djoko Damono, Asrul Sani, dan Trisno Sumardjo. Ada juga Penerbit Obor yang didirikan dan dikendalikan oleh Mochtar Lubis.


Gerakan politik gemar membaca tentu saja dimaksudkan untuk menyiapkan generasi baru yang lebih cerdas ketimbang generasi hari ini, menyiapkan mereka yang sekarang masih kanak-kanak. Orang-orang yang telanjur berumur 20 tahun saya pikir tidak perlu didorong-dorong untuk gemar membaca. Anda tahu, pada umur 20 tahun, orang yang tidak gemar membaca akan lebih senang disuruh push-up lima puluh kali sehari ketimbang dipaksa membaca satu buku sebulan.


Orang-orang berumur 40 tahun akan lebih suka belajar agama. Kalaupun mereka mulai melirik bacaan, mereka akan memilih bacaan-bacaan menjelang ajal. Jadi, tidak usah dipaksa mereka membaca buku-buku apa pun selain kumpulan doa-doa mustajab.


Saya sudah cukup senang sekiranya mereka--orang-orang 40 tahun ke atas--mau berpura-pura membaca setiap hari. Cukup berpura-pura, membuka halaman-halaman buku satu dua jam sehari, memandanginya saja dan tidak perlu membaca, tidak perlu juga mulut mereka berkecumik seperti orang salat. Mereka perlu tahu bahwa membaca dalam hati tidak memerlukan kecumik mulut.


Mereka bisa berpura-pura membaca karya-karya Shakespeare, atau Bertrand Russell, atau Stephen Hawking, atau segala buku filsafat, teori ekonomi, teori fisika kuantum, atau Mahabharata, atau apa saja. Yang penting anak-anak melihat orang tua mereka gemar membaca, dan, sebagai orang tua, mereka bisa mengatakan kepada anak-anak mereka: "Membacalah setiap hari, Nak, seperti ayah dan ibumu."


Sekarang saya tahu bahwa mens sana in corpore sano adalah peribahasa yang bukan saja keliru, tetapi tidak bisa dipercaya. Yang benar mestinya di dalam akal yang sehat terdapat jiwa yang sehat.


Agar pemerintah menyadari pentingnya akal yang sehat bagi seluruh warga negara, saya bayangkan perlu tuntutan politik yang keras, sehingga ada kemauan politik oleh pemerintah untuk mewujudkan masyarakat gemar membaca.


Mungkin bahkan kita perlu memikirkan berdirinya Partai Indonesia Membaca, sebuah partai politik yang bekerja untuk menekan pemerintah agar membereskan sistem pendidikan, mendorong penerjemahan semua karya besar ke dalam bahasa Indonesia, dan mewujudkan masyarakat gemar membaca ke dalam kebijakan politik.


Sekiranya ia ada, Partai Indonesia Membaca akan bertarung di kancah politik untuk mempersiapkan generasi Indonesia Baru yang lebih cerdas, lebih damai di bumi, dan lebih siap menjalani pergaulan antarbangsa di dunia luas.


Oh, saya masih suka melamun, tetapi sekarang saya tahu bahwa itu sehat. Orang-orang bijak menyebutnya berimajinasi--ia memberi kita sayap untuk terbang ke mana pun.[]


* Dimuat pertama kali di Beritagar, 18 Januari 2017.

| 12:00 AM |

1. . Di Tepi Gangga

 MAHABHARATA

Oleh: A.S. Laksana


Buku Satu: Adi Parva


Santanu, raja keempat belas wangsa Kuru dari garis keturunan agung Manu dan Bharata, memacu kudanya sendirian menjelajah hutan. Sejak kanak-kanak, ia penyendiri; dan setiap kali berburu, ia melakukannya seorang diri. Baginya, berburu adalah sembahyang; ia melakukannya untuk menyatukan diri dengan hutan belantara, dan ia tidak memerlukan rombongan pengawal untuk bersembahyang.


Ia masih muda dan belum beristri dan orang-orang di istananya khawatir bahwa raja mereka tidak akan pernah beristri. Santanu telah menolak semua putri yang ditawarkan kepadanya oleh penasihat dan para sesepuh kerajaan. 


“Raja memerlukan permaisuri dan kerajaan memerlukan putra mahkota, Tuanku,” kata penasihatnya suatu hari. 


“Akan tiba saatnya, Paman,” katanya, “tetapi untuk saat ini saya belum memikirkannya.”


Santanu tahu bahwa suatu hari ia akan menikah dan ia tahu siapa perempuan yang akan menjadi permaisurinya. Perempuan itu telah muncul dalam mimpinya bahkan jauh sebelum ia dinobatkan menjadi raja. Berulang kali ia memimpikannya, tetapi hingga saat itu ia belum pernah berjumpa dengannya. 


Hari hampir senja dan warna jingga mulai membayang di langit barat, dan Santanu sudah berada di punggung kudanya sejak fajar, namun anak panahnya belum mengenai satu pun hewan buruan. Satu kali ia melihat macan tutul di balik rimbun semak-semak dan panahnya meleset; dua kali ia gagal memanah rusa jantan. Anak panah terakhir yang dilepaskannya melebar sejengkal dari sasaran.


Belum pernah ia seperti ini. Ia berburu seperti orang yang baru pertama kali masuk hutan dan memanah seperti kanak-kanak yang baru belajar dan ia tidak tahu apa yang membuatnya seburuk itu. Matahari sudah terbenam di bukit-bukit barat ketika Santanu tiba di tepi sungai yang airnya berkilauan—Gangga.


Ia turun dari kudanya yang kelelahan dan menuntun tunggangannya itu ke tepi air dan membiarkannya minum sepuasnya. Ia sendiri berlutut di samping kudanya, membasuh tangan dan wajah dan memulihkan tenaga dengan meneguk air suci Gangga. Dan tiba-tiba ia merasa bahwa ia tidak sendirian di tempat itu.


Seorang perempuan, tubuhnya memancarkan terang seolah-olah terbuat dari cahaya, berdiri tak jauh darinya. Rambut hitamnya mengalir ke pinggang, lembut seperti arus sungai. Santanu menegakkan tubuh dan mematung beberapa saat, tersihir oleh pemandangan di hadapannya. Ia mengenal perempuan itu—perempuan yang berkali-kali datang ke dalam mimpinya, dan sekarang perempuan itu berdiri di hadapannya.


"Saya Santanu, raja Hastinapura,” akhirnya ia bicara, dalam suara berbisik, seperti takut bahwa suaranya akan menyakiti pendengaran perempuan itu. “Sudah lama saya menantikan pertemuan ini. Ikutlah ke istanaku dan jadilah permaisuriku.”


“Terima kasih, Tuanku,” kata perempuan itu. “Tetapi saya khawatir Tuanku tidak akan sanggup memenuhi permintaan saya.”


“Apa pun yang kamu minta--”


“Tuanku tidak boleh menanyakan siapa saya, atau mempertanyakan apa pun yang saya lakukan, sekalipun tindakan itu sangat buruk kelihatannya.”


Santanu berlutut di hadapan perempuan itu dan bersumpah memenuhi permintaannya. Lalu ia menaikkan perempuan itu ke punggung kudanya dan mereka meninggalkan sungai pulang ke Hastinapura. 


“Saya akan pergi dan kita berpisah selamanya jika Tuanku melanggar sumpah,” kata perempuan itu dalam perjalanan.


"Tidak akan pernah,” kata Santanu. “Aku tidak akan pernah menanyaimu, apa pun yang kaulakukan."


Berdua di punggung kuda, Santanu membenamkan wajahnya pada rambut perempuan itu, rambut yang seperti arus Gangga, dan ia merasa seolah-olah sedang berenang mengikuti arus sungai suci itu menuju langit.


*


Kini Hastinapura memiliki ratu; Santanu menamai permaisurinya Gangga, karena di sungai itulah ia menemukannya.


Setahun berlalu dan pada suatu malam musim panas, Gangga memberi tahu Santanu bahwa ia hamil. Hastinapura menggelar pesta sebulan penuh untuk menyambut kabar baik tentang akan lahirnya penerus tahta. Semakin dekat hari kelahiran, raja terlihat semakin bahagia. Ia terlalu bahagia dan tidak memperhatikan bahwa permaisuri justru semakin murung. Sebetulnya ia tahu bahwa Gangga terlihat cemas dan lebih suka menarik diri, tetapi ia pikir itu wajar terjadi pada perempuan hamil.


Musim dingin berakhir dan pada hari cerah musim semi seorang utusan menghadap raja dengan napas terengah-engah, mengabarkan bahwa Ratu Gangga telah melahirkan seorang putra. Santanu bangkit dari singgasananya dan berlari menuju istana permaisuri, mengabaikan para penjaga yang mencoba menyampaikan sesuatu kepadanya, dan menyerbu masuk ke ruang persalinan. Ruangan itu kosong.


"Di mana dia?" teriaknya. "Di mana anakku?"


Kepala pengawal tergopoh-gopoh menghadap dan melaporkan: “Paduka Ratu keluar membawa bayinya ke sungai dan tidak mengizinkan satu pun dari kami mengikutinya.”


Gangga meninggalkan istana dengan kereta. Santanu meminta disiapkan kuda tercepat untuk mengejar istrinya. Senja hari ia tiba di tepi sungai, di tempat mereka dulu bertemu.


Dalam cahaya remang, Santanu melihat dari punggung kudanya Gangga berdiri di tepi air, dengan bayi di dalam pelukannya. Perempuan itu berbicara khidmat kepada sungai dalam bahasa tua yang tidak dipahami oleh Santanu. 


Lalu, sambil terus melantunkan mantra, Gangga mengangkat bayinya tinggi-tinggi di atas kepala, dan Santanu melompat turun dari punggung kudanya ketika melihat tangan Gangga siap melemparkan bayi itu ke sungai. Tetapi tiba-tiba di telinganya bergaung ucapan perempuan itu: “Saya akan pergi dan kita berpisah selamanya jika Tuanku melanggar sumpah.”


Ia hanya membeku di tempatnya saat melihat Gangga benar-benar melemparkan bayinya ke sungai, dan sungai menciptakan pusaran untuk menelan bayi itu. Bayi lenyap dan permukaan sungai kembali tenang dan perempuan itu sudah berhenti melantunkan mantra. Kini ia menangis, seolah-olah ia baru saja merenggut jantungnya sendiri dan membuangnya ke sungai.


Setelah tangisnya reda, Gangga menoleh ke arah suaminya. Wajahnya memancarkan cahaya keemasan dan, selama hidup, Santanu tidak akan pernah melupakan raut wajah istrinya pada senja itu. Sebelum Santanu bisa berkata-kata, Gangga berlari ke arahnya  dan melingkarkan tangan ke lehernya. Mata perempuan itu menembus matanya, seolah mengingatkan: “Ingat sumpahmu!”


Dengan tangan yang lunglai, Santanu memeluk istrinya, membenamkan diri ke pusaran yang tak ia pahami. Seumur hidup ia hanya ingin memperistri perempuan ini, dan ia menikahinya, dan ia tidak tahu apa lagi yang akan dilakukannya.[]

2..Dua Kutukan dan Sebuah Perpisahan

 MAHABHARATA

Oleh: A.S. Laksana


Buku Satu: Adi Parva


Dengan pikiran yang lumpuh oleh kepedihan, Santanu menjaga sumpahnya. Ia tidak pernah menanyakan, bahkan dalam saat-saat paling intim di antara mereka, kenapa Gangga membuang putra mereka ke sungai.


Setahun berikutnya Gangga hamil lagi, melahirkan lagi, pergi ke sungai lagi, dan membuang bayinya lagi. Santanu hanya bisa mematung menyaksikan semua itu. Ia terikat sumpah dan tak sanggup berkata apa pun ketika Gangga melingkarkan tangan ke lehernya setelah membuang bayi.


Tujuh kali Gangga melahirkan; tujuh kali Santanu menyaksikan perempuan itu membuang bayi yang dilahirkannya, dan sang raja menjadi semakin pendiam. Ia tetap menjalankan pemerintahan, tetapi dengan perasaan compang-camping dan luka tak tersembuhkan dan kabut yang memerangkap pikiran. 


Siapa perempuan itu sebenarnya? Pada hari-hari lain di luar hari ketika ia pergi ke sungai membuang bayi, Gangga tidak bercela. Santanu melihat dalam diri perempuan itu segala bentuk kebajikan paling luhur: Tangan dan suaranya sama lembutnya dan matanya memancarkan belas kasih dan ia menyayangi kehidupan. 


Setiap pagi Santanu akan mendengar perempuan itu menyanyi. Gangga selalu menyambut kehidupan dengan doa dan nyanyian suci; ia menyayangi orang-orang di sekitarnya, rusa di taman, dan serangga-serangga. O, bagaimana kelembutan semacam itu sanggup melakukan kejahatan yang tak pernah terpikirkan oleh siapa pun? Ia welas asih kepada semut-semut, tidak membunuh nyamuk, tetapi tujuh kali membunuh bayi-bayinya sendiri.


Santanu merasakan pikirannya kian gelap; ia terperosok ke tempat terburuk dan tak sanggup melakukan apa pun untuk bangkit dari tempat itu. Ia membenci dirinya sendiri karena tidak sanggup membenci Gangga.


*


Pagi itu seorang menteri tua, orang yang ia percaya, menanyakan ke mana para pangeran yang dilahirkan oleh permaisuri. Santanu menjawab bahwa putra-putranya lahir dengan penyakit yang disebabkan oleh kutukan purba dan mereka harus diserahkan perawatannya kepada seorang resi di tempat tersembunyi.


Itu kebohongan yang membuat dadanya sesak saat menyampaikannya. Demi menghindari pertanyaan yang memaksanya berbohong, ia menjauhi semua orang, termasuk para sesepuh yang paling setia kepadanya. 


Ia ingin menjauh juga dari Gangga, tetapi tidak bisa. Ia tetap tidak sanggup menjauhinya meskipun ia kadang meyakini bahwa istrinya adalah raksasi, makhluk jahat yang dikirimkan oleh kegelapan untuk menghancurkannya, melemahkan akalnya, memberinya penderitaan yang tak akan pernah tersembuhkan. Yang paling menyakitkan baginya adalah perempuan itu tidak terlihat menyesali tindakan kejinya membuang tujuh bayi yang dilahirkannya.


“Saya mewakili semua orang yang menyayangi anda, Tuanku. Di manakah gerangan putra-putra Tuanku saat ini?”


Pertanyaan itu, yang disampaikan menteri tua pagi tadi, membuat Santanu rusuh hingga larut malam. Ia harus melakukan sesuatu kepada raksasi itu, tapi apa? Di puncak kegelisahannya malam itu, ia mendengar suara lembut Gangga dari kamarnya. Perempuan itu menyanyikan doa tengah malam.


Santanu mendekatinya, Gangga menyambutnya, dan raja yang terluka itu membenamkan diri ke rambut hitam yang seperti arus sungai. Dan pada awal musim semi, Gangga hamil lagi dan sembilan bulan kemudian, pada malam menjelang kelahiran, Santanu menyelinap mendekati ruang persalinan. Semalaman ia berjaga di tempat tersembunyi dan pada dinihari ia mendengar tangis Gangga saat berjuang keras melahirkan bayinya; lalu tangis bayi; lalu nyanyian suci.


Ia hanyut mendengarkan nyanyian Gangga, tetapi segera sadar apa yang harus dilakukannya. Menjelang fajar, Santanu berangkat ke tepi sungai mendahului Gangga dan tiba di sana sebelum matahari dan memilih tempat tersembunyi untuk menunggu istrinya tiba di tempat ia biasa membuang bayi.


Waktu berjalan sangat lambat. Ia gelisah di tempat persembunyiannya.


Ketika matahari merah muncul di langit timur, kereta Gangga tiba di tepi sungai. Perempuan itu turun menggendong bayinya dan berdiri di tepi air menyanyikan mantra. “Hentikan!” teriak Santanu. Ia melompat dari tempat persembunyiannya ketika Gangga mengangkat bayinya tinggi-tinggi di atas kepala.


“Tidak akan kubiarkan kau membunuh anakku kali ini.”


Santanu berlari ke arah istrinya dan sebelum ia berhasil merebut bayi itu, Gangga sendiri mengulurkan bayi di kepadanya. Cepat-cepat ia menerima bayi itu dan mendekapnya kuat-kuat seperti mendekap hidupnya sendiri.


“O, malapetaka. Bagaimana mungkin seorang ibu tega membunuh bayi-bayinya sendiri?”


Gangga memandangi suaminya.


“Kau melanggar sumpahmu kepadaku,” katanya. Suaranya terdengar sedih. “Tampaknya kau lebih memilih putramu ketimbang aku. Baiklah. Dengan begitu, kutukan berakhir hari ini.”


“Kutukan? Bukankah kau sendiri kutukan itu, wanita pembunuh?”


Seperti anak panah yang paling mematikan, amarah di dalam kata-kata Santanu melesat menembus jantung perempuan itu. Dilihatnya mata Gangga meredup, dan berair, dan Santanu masih ingin melukainya enam kali lagi untuk membalas tujuh kejahatan yang telah dilakukannya sejak perempuan itu melahirkan bayi pertama.


Gangga mendekat, seperti kesedihan yang merayap pelan-pelan, lalu mengulurkan tangannnya. Santanu merasakan hatinya tercabik-cabik ketika jari-jari lembut perempuan itu menyentuh pipinya.

 

“Lihat aku, Santanu,” katanya.


Santanu memandangi istrinya dan melihat perempuan itu mengubah diri menjadi cahaya lembut dan gelombang kristal sekaligus: Ia lebih suci ketimbang udara pagi dan lebih terang daripada matahari.


“Aku Gangga, Santanu, sungai langit dan di bumi. Di dalam arusku manusia membasuh dosa-dosa mereka.”


Santanu beku dan sunyi, seperti tugu batu, tetapi di dalam dirinya ada arus bergulung-gulung, riuh dan membingungkan. Ia ingin berlutut menyembah perempuan di hadapannya, namun bayi di dalam pelukannya, yang hampir mati ditelan arus, dan tahun-tahun kepedihan membuatnya tak melakukan apa-apa. 


Dan Gangga mengubah diri ke wujud manusianya, menuturkan dengan suara lembutnya tentang dua kutukan.


“Kutukan pertama menyebabkan aku datang kepadamu sebagai manusia, sebagai perempuan di tepi sungai, sebagai istrimu. Dulu, pada kehidupan lalu yang sudah hilang dari ingatanmu, karena kamu manusia yang terikat pada tubuh fanamu, kamu adalah raja dan namamu Mahabhiseka.”


Samar-samar Santanu teringat sesuatu, yang terasa olehnya seperti mimpi. Mahabhiseka duduk di dalam perjamuan dengan para dewa di Indraloka. Ia manusia, tetapi karena keluhuran dan samadinya, dewa memberinya keleluasaan untuk bertandang ke langit kapan saja ia ingin mengunjungi para dewa.


Dewi Gangga melintas di perjamuan itu dan angin bertiup menyingkap kainnya. Para dewa menunduk, Mahabhiseka tidak. Ia terpesona melihat Gangga, dan Gangga membalas pandangannya, dan ia juga terpesona pada Mahabhiseka. Hanya sesaat mereka bertatapan, tetapi para dewa melihatnya, dan itu terlarang di Indraloka: saling memandang dengan dada menyimpan hasrat, di dalam perjamuan para dewa.


Dewa Indra kemudian mengeluarkan kutukannya. Mahabhiseka akan tetap menjadi raja, tetapi tidak bisa lagi naik ke langit, dan Gangga akan menjalani kehidupannya sebagai manusia di bumi. Mereka akan menjadi suami istri, saling mencintai, dan merasakan kebahagiaan dan penderitaan karena cinta mereka.


“Itu sebabnya aku datang ke dalam mimpimu, Santanu, dan hadir di hadapanmu di tepi sungaiku.”


Santanu, Mahabhiseka pada kehidupan sebelumnya, merasakan kepedihan yang lain. “Sekarang kau akan meninggalkan aku?”


“Bukan aku yang menyebabkan perpisahan.”


*


Santanu merasakan bayang-bayang takdir yang tak terelakkan. Perpisahan. Lalu, dengan suara lemah, ia menanyakan: “Dan anak-anak kita? Kutukan apakah yang harus mereka jalani?”


“Mereka para wasu. Mereka membuat Resi Wasista marah dan mengutuk mereka.”


Wasu adalah dewa penghuni langit juga. Pada waktu itu, delapan wasu berjalan-jalan bersama para istri mereka, dan mereka melihat Nandini, lembu betina, yang sedang merumput bersama anaknya di lereng gunung tempat tinggal Resi Wasista.


Ketika mereka pulang ke langit dari jalan-jalan, salah satu istri wasu menginginkan Nandini dan ia merengek kepada suaminya. 


“Untuk apa, Istriku?” tanya Prabhasa. “Kita tidak memerlukan susu Nandini agar hidup abadi. Kita sudah abadi.”


“Itu bukan untukku,” kata istrinya. “Aku menyayangi kawanku, seorang manusia, dan aku ingin ia hidup abadi.”


Prabhasa menggeleng. “Kita akan membuat marah Resi Wasista jika melakukannya.”


“Kalau kau takut pada Wasista, yang hanya manusia biasa, aku tak akan memaksamu menjadi pemberani.”


Dicemooh seperti itu, Prabhasa akhirnya turun bersama tujuh wasu lainnya. Mereka melesat dari langit seperti bintang berekor, melarikan Nandini dan anaknya.


Wasista tekun bersamadi dan baginya Nandini seperti putrinya sendiri. Ketika Nandini dan anaknya hilang, ia bisa mendengar rintihan lembu itu dan lolong ketakutan anaknya. Dan ia resi sakti. Ia tahu siapa yang telah mencuri lembu-lembu kesayangannya.


Dengan amarah yang tak tertahankan, ia memusatkan pikiran dan kemudian mengutuk para wasu: “O, dewa-dewa rendahan. Jadilah kalian manusia fana.”


Di langit, para wasu bisa merasakan kutukan itu. Betapa mengerikan. Mereka makhluk cahaya. Tak sanggup mereka membayangkan diri menjadi manusia, memiliki darah dan daging, dan hidup di bumi, dan mati, dan membusuk setelah mati. Mereka turun menemui Resi Wasista, mengembalikan Nandini dan anaknya, dan memohon pengampunan.


Wasista iba melihat para wasu itu dan bersedia memaafkan mereka, tetapi kutukan resi bukan sesuatu yang bisa ditarik lagi setelah diucapkan. “Aku hanya bisa melunakkannya,” kata sang Resi. “Tujuh dari kalian akan menjalani kutukan singkat. Kalian hanya akan menghabiskan sembilan bulan di kegelapan rahim ibu. Lalu kalian akan mati begitu dilahirkan. Dengan jalan itulah kalian kembali ke langit.”


Kepada Prabhasa, yang telah menyeret ketujuh wasu lain ke dalam dosa, Wasista berkata lembut: “Kamu harus menjalani hukumanmu secara penuh di bumi, Prabhasa, tetapi penyesalanmu dan restuku akan membawamu pada kehidupan yang luar biasa di bumi. Sekarang, kalian harus menemukan perempuan yang akan menjadi ibu kalian. Melalui rahimnya, kalian akan terbebas dari kutukan.”


Setelah itu Wasista membawa Nandini dan anaknya meninggalkan mereka. Ia harus bertapa untuk memulihkan tenaganya; bagaimanapun, mengeluarkan kutukan dan melunakkannya kembali telah membuatnya terkuras.


*


Dari teras padepokan yang ditinggalkan oleh Wasista, para wasu yang menanggung kutukan itu melihat mata air yang berkilau di bawah matahari. Dari sanalah Gangga bermula. Prabhasa mengusulkan mereka datang ke mata air itu dan memohon kepada Gangga. “Tidak ada ibu lain yang lebih baik bagi kita selain sungai yang mengaliri langit dan bumi,” katanya.


Mereka berangkat ke mata air dan terus memohon sampai Gangga muncul di hadapan mereka dan mereka berlutut di kakinya seperti delapan kanak-kanak meminta belas kasih ibu mereka. Prabhasa, dengan perasaan bersalah kepada teman-temannya, mewakili mereka:


“Dewi, jadilah manusia dan menikahlah dengan raja di bumi. Jadilah ibu bagi kami. Buanglah kami di sungaimu begitu kami lahir, agar terbasuh kami dari dosa-dosa, dan kami suci untuk pulang ke langit.”


Gangga mengabulkan permintaan mereka. Delapan wasu mengucapkan terima kasih dan kemudian melakukan samadi di sebuah gua di lereng gunung itu dan menghilang.



“Dengan aku sendiri menjalani kutukan, Santanu, dan selalu merindukan pertemuan denganmu, bagaimana mungkin aku menolak permintaan mereka?”


Sekarang, dengan pikiran jernih, Santanu berlutut dan meminta maaf kepada Gangga bahwa ia telah meragukannya dan menyebutnya wanita pembunuh. Lalu, tanpa bicara, ia serahkan bayi yang ia gendong kepada ibunya, dan Gangga, dengan gerak lembut yang membuat Santanu menyesali dirinya, menyambut bayi itu, Wasu Prabhasa, dari tangannya.


“Pulanglah ke Hastina,” kata Santanu.


“Aku pulang ke tempatku,” kata Gangga. 


“Apakah aku tidak akan pernah melihatmu lagi, Gangga? Aku akan datang ke tepian ini. Maukah kau menemuiku tanpa dilihat oleh manusia atau dewa?”


“Waktu kita bersama sudah berakhir, Santanu. Aku akan merawat putra kita. Nanti, pada hari ia berusia enam belas, aku akan membawanya ke tempat ini. Ia akan pulang bersamamu ke Hastina. Dan, ketika waktunya tiba, ia akan memerintah Kuru.”


Dengan mendekap bayi di dadanya, Gangga menghilang. Tangis Santanu menggema di langit, menggugurkan dedaunan di hutan, mengacaukan arus sungai. Berulang-ulang ia memanggil “Gangga! Gangga!” tetapi apa yang sudah berakhir tak bisa dimulai lagi dan arus Gangga tak pernah berbalik menuju hulu.[]

| 12:00 AM |

3. Putra Gangga

 MAHABHARATA

Oleh: A.S. Laksana 


As Laksana ( Mahabaratha) 

Jalan menuju penderitaan bisa dimulai dari langkah pertama yang seakan-akan menawarkan kebahagiaan. 


Sepuluh tahun Santanu bersama Gangga, perempuan yang ia lihat dalam mimpi, satu-satunya perempuan yang ia inginkan menjadi istri, dan  mereka bertemu di tepi sungai pada hari senja, dan itu saat paling bahagia di dalam hidup Santanu. Ia melamar perempuan itu, menyanggupi secara enteng syarat yang diajukan, dan membawanya pulang ke istana.


Hari itu Hastina memiliki ratu, perempuan sungai, cantik dan lembut. Ia memberi Santanu cinta dan kegelapan sekaligus, dan lebih banyak kegelapan, dan membenamkan raja Hastina itu ke dalam duka yang tak bisa dipertanyakan. Sumpahnya kepada perempuan itu, yang ia pikir mudah, membuatnya tak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa ia lakukan di dalam kegelapan hanyalah menjadi muram, tidak mengurus diri, dan memperlihatkan kepada siapa saja bahwa ia cepat tua. Rambutnya masih hitam, tetapi wajahnya layu, bergurat, dan kantung matanya menebal. 


Di puncak penderitaan, Santanu akhirnya goyah, dan ia melanggar sumpah, dan segalanya menjadi terang pada hari ia melanggar sumpah. Gangga menjelaskan semua yang dilakukannya, dan gelap menyingkir seketika dari pikiran Santanu, tetapi duka tidak. Ia mempertanyakan tindakan Gangga, dan ia harus memikul duka selanjutnya: Perempuan itu meninggalkannya dan Santanu harus menjalani enam belas tahun yang sunyi.


Selama enam belas tahun itu ia hidup seperti pertapa di istananya. Ia masuk hutan ketika sedih, menyandang busur dan anak panah, tetapi tidak lagi membunuh hewan-hewan. Ia hanya memandangi mereka dan pergi ke tepi sungai menjelang senja, ke tempat ia menemukan Gangga dan kehilangan Gangga.


Enam belas tahun ia berbicara dengan batang-batang pohon seolah berbicara dengan Gangga, dengan batu-batu, dengan kijang di balik gerumbul sana. Sebetulnya ia merintih:


Datanglah, Sungaiku

Datang satu kali

Sebab mataku kehilangan pagi

Telingaku kehilangan nyanyi


Datanglah, Sungaiku

Satu kali. Sebab kemarau pada batu 

Dan dada ini meranggas 

Memanggili arusmu


Hari itu, ketika matahari terbenam di bukit-bukit barat, ia tertidur setelah merintih, di tepian tempat mereka bertemu pertama kali. Dan ia bermimpi arus sungai berhenti mengalir; dan Gangga datang lagi kepadanya, membelai wajahnya, memanggil namanya:


“Santanu.”


Ia terbangun dan mendapati sungai betul-betul terbendung dan Gangga berdiri di hadapannya, seperti waktu itu.


“Aku hampir tidak mengenalimu, Santanu.”


“Aku selalu mengenalimu.”


Gangga tidak menua. Ia tak terjamah waktu. 


Santanu, dengan mata basah dan membiarkan saja air matanya mengalir, melanjutkan ucapannya:


“Terima kasih sudah menemuiku. Semua orang akan bahagia menyambut kepulanganmu. Mereka merindukan ratu mereka kembali.”


Gangga tersenyum, menoleh ke arah barat, mengangkat telunjuknya ke arah matahari yang terbenam.


“Kamu lihat matahari itu, Santanu. Apakah kamu bisa meminta dia kembali sehingga kamu bisa hidup di hari yang sama lagi? Tidak ada yang bisa melakukannya. Tidak ada yang sanggup memutar waktu. Jadi, jauhkan pikiranmu dari apa yang sudah selesai dan jangan berharap akan bisa mengulanginya lagi.”


Dari hulu sungai, seorang bocah remaja berlari-lari di permukaan air, seolah-olah ia berlari di atas tanah, dan ia berhenti di tempat air sungai terbendung. 


“Ibu, aku melakukannya,” kata bocah itu.


“Ya, aku melihatnya,” kata Gangga.


Bocah itulah yang telah membendung arus Gangga. Ia menahan aliran sungai dengan menciptakan jaring dari panah-panahnya, dan air sungai tak mampu melewatinya. Mata sayu Santanu membelalak, tidak percaya pada apa yang dilihatnya.


Gangga memanggil bocah itu, dan si bocah berlari menemuinya, dan dengan suara polos berkata, “Aku membendungnya lagi.”


Ibunya menggamit tangan anak itu dan membawanya ke hadapan Santanu.


“Beri hormat kepada ayahmu, Dewabrata,” katanya.


Remaja itu memandangi Santanu dengan mata hitamnya yang cemerlang, wajahnya menampakkan kebingungan, tetapi sesaat kemudian ia berlutut memberikan hormatnya. Santanu menyentuh kedua bahu anak itu dan mengangkatnya berdiri; mereka sudah sama tinggi.


“Hari ini anak kita berumur enam belas, Santanu. Aku mengantarkannya kepadamu. Ia tahu semua yang harus diketahui oleh seorang pangeran. Resi Wasista sendiri yang mengajarinya kebijaksanaan, Brihaspati mengajarinya keksatriaan, dan Parasurama mengajarinya memanah. 


“Tidak akan ada orang lain yang lebih tepat untuk menggantikanmu kelak, selain Dewabrata. Ia ksatria utama.”


Dewabrata memeluk ibunya kuat-kuat. Lama ia memeluk ibunya, seperti tidak menginginkan perpisahan. 


“Aku akan merindukanmu, Ibu.”


“Kamu tahu caranya jika ingin menemuiku.”


“Aku akan membendung sungai lagi, dan kau harus melihatnya lagi.”


Santanu memandangi ibu dan anak saling berpelukan. Gangga membenamkan wajahnya ke dada Dewabrata. Kemudian mereka saling melepaskan, dengan gerak tangan yang enggan, dan Santanu, dengan pandangan yang kabur oleh air mata, melihat Gangga tersenyum kepadanya, membalikkan tubuh, dan menghilang. Lalu ia merengkuh Dewabrata; dada anak itu basah oleh air mata ibunya.[]

| 12:00 AM |

4. Gadis di Atas Perahu

 MAHABHARATA

Oleh: A.S. Laksana




Dewabrata tumbuh dewasa jauh melampaui usianya. Ia mewujudkan ucapan ibunya menjadi ksatria utama, dan kehadirannya di istana memulihkan lagi kegembiraan hidup Santanu. Pada umur dua puluh ia diangkat menjadi yuwaraja, ahli waris tahta. Hastina bersuka. Dewabrata memiliki kejernihan berpikir dan watak welas asih yang membuat semua orang yakin bahwa kelak, ketika tiba waktunya ia naik tahta, negeri mereka akan lebih mulia, dan lebih makmur, dan mencapai kebesaran di bawah kepemimpinannya.


Namun, ada sungai lain, dan tepian lain, yang membelokkan jalan hidup ayah dan anak dan membuat rakyat Hastina tidak akan pernah melihat putra Dewi Gangga menjadi raja mereka. Sungai Yamuna. Di tepi sungai itu Santanu terpikat harum surgawi.


Santanu sudah mempercayakan urusan sehari-hari kepada putra mahkota dan ia menikmati waktunya untuk masuk hutan. Ia selalu mencintai hutan. Dan hari itu, hanya ditemani kusir keretanya, ia menjelajah hutan dan tanah-tanah terbuka dan tiba di tepi Yamuna. Kusir membawa kereta ke tepi air agar kuda-kudanya bisa minum. 


Dan angin bertiup. Dan Santanu mencium harum bunga. 


Ia turun dari kereta, berjalan menyusuri tepian mencari sumber bau harum itu, dan menemukan perempuan di atas perahu tambang—hitam dan cantik dan harum, dan kata-katanya terdengar seperti nyanyian bagi telinga Santanu ketika perempuan itu menanyakan apakah ia hendak menyeberang.


Santanu memperkenalkan namanya kepada perempuan itu dan tak sanggup menyembunyikan keinginan yang datang seketika itu juga. “Aku ingin membawamu ke istana sebagai istriku,” katanya.


Perempuan itu, seperti sudah menduga apa yang akan ia dengar, menjawab tenang: “Saya tidak bisa memutuskan sendiri, Tuanku. Sebaiknya Tuan sampaikan keinginan Tuan kepada ayah saya. Dia ada di rumah.”


Tangannya menunjuk sebuah gubuk di tepian, tepat sebelum sungai berkelok memasuki hutan. Santanu  bergerak enggan menuju gubuk yang ditunjukkan oleh perempuan itu; kakinya berat, hatinya berat, ia tidak ingin pergi darinya.


Ayah gadis itu seorang nelayan. Ia sedang bersila di lantai gubuknya ketika Santanu tiba di ambang pintu dan lekas berdiri mempersilakan tamunya masuk. Dan Santanu, seperti tidak sanggup meluangkan waktu untuk sekadar beramah tamah dengan orang yang baru ia temui, langsung memperkenalkan diri dan menyampaikan keinginannya. Bilah cahaya sore menerobos celah di dinding gubuk, seperti pedang cahaya, ujungnya menimpa punggung lelaki itu saat ia membungkuk memberi hormat dan mengucapkan terima kasih.


“Tidak ada jodoh yang lebih baik lagi bagi Satyawati jika seorang raja sudah datang melamarnya,” katanya.


“Jika demikian, aku akan membawanya hari ini juga,” kata Santanu.


“Silakan, Tuanku. Nelayan tua ini akan sangat bahagia melihat putrinya menemui takdir yang sudah diramalkan baginya.” Ia menceritakan bahwa bertahun-tahun lalu, seorang bijak mengatakan bahwa putrinya akan menjadi permaisuri dan keturunannya akan menjadi raja meneruskan tahta sang ayah. “Maka, Tuanku, bawalah dia jika Tuanku berjanji menjadikannya permaisuri dan anak yang kelak lahir dari rahimnya akan menjadi raja menggantikan Tuanku.”


Nelayan tua itu menundukkan wajah setelah mengucapkan syarat kepada Santanu. Sikapnya tenang, seolah-olah ia hanya menyampaikan harapan yang wajar untuk putrinya kepada lelaki yang datang meminang.


Santanu memandangi lelaki tua di hadapannya dengan perasaan campur aduk antara kalut dan tersinggung, dan juga tak berdaya. Tetapi ia masih sanggup menahan diri. Ia telah memikul penderitaan dan mampu menekan amarah selama menjalani tahun-tahun terberat hidupnya tanpa bertanya. Sekarang lelaki di hadapannya, seorang nelayan tua, hanya pria jelata penghuni gubuk, telah mengajukan kepadanya syarat yang terdengar tidak tahu diri dan tidak mungkin ia penuhi.


“Aku akan memberinya kemuliaan dan apa pun yang ia inginkan—“


“Terima kasih, Tuanku.”


“Tetapi tidak mungkin keturunannya menjadi raja. Hastina sudah memiliki putra mahkota.”


“Kalau begitu Tuanku bukan raja yang ditakdirkan untuk putriku.”


Santanu meninggalkan gubuk dengan pikiran rusuh dan mengambil jalan melingkar menuju keretanya; ia memilih masuk hutan untuk menghindari pertemuan sekali lagi dengan perempuan di atas perahu. Ia tahu ia harus cepat-cepat meninggalkan tempat itu dan menganggap Satyawati tak pernah ada. Tetapi angin bertiup dari arah belakang, membawa kepadanya harum yang melumpuhkan, dan Santanu tak mungkin mencegah angin bertiup. Ia hampir menyerah dan berbalik ke gubuk dan menyanggupi apa yang diminta si nelayan.


“Ini anak kita, Santanu.”


Tiba-tiba ia mendengar suara Gangga, lalu wajah Gangga, lalu wajah putranya. Ia melihat hari penobatan Dewabrata sebagai yuwaraja. Lalu suara Gangga lagi:


“Tidak akan ada orang lain yang lebih tepat untuk menggantikanmu kelak, selain Dewabrata. Ia ksatria utama.”


Ia melihat rakyat Hastina bersuka cita menyambut putra Gangga, ksatria yang kelak menjadi raja mereka. Tidak mungkin ia mengkhianati semua itu.


Seperti ksatria yang tercabik-cabik di medan perang, Santanu terhuyung-huyung mencapai keretanya dan memberi perintah kepada kusir:


“Kita pulang.”


Kusir melarikan kereta seolah beradu cepat melawan kereta hantu; Santanu yang memerintahkannya. Tetapi secepat apa pun kereta melaju, Santanu seperti tidak pernah meninggalkan tepi sungai. Ia terus mencium harum tubuh perempuan itu, dan Satyawati selalu ada di depan mata, duduk di perahu tambangnya, mengayun-ayunkan kaki ke air biru Yamuna, menanyakan apakah ia hendak menyeberang.


O, bumi yang fana. Kebahagiaan seperti tak pernah berumur panjang. Empat tahun ia menikmati waktu bersama putranya yang telah kembali, tepi sungai memberinya penderitaan sekali lagi. Dan ia tidak mungkin pulih tanpa mengorbankan Dewabrata, putra Gangga yang ia cintai, yang mencintainya, dan ksatria utama yang menjadi harapan semua orang Hastina.[]

GENDAM NUSANTARA 919

Back to Top