-->

3. Putra Gangga

| 12:00 AM |

 MAHABHARATA

Oleh: A.S. Laksana 


As Laksana ( Mahabaratha) 

Jalan menuju penderitaan bisa dimulai dari langkah pertama yang seakan-akan menawarkan kebahagiaan. 


Sepuluh tahun Santanu bersama Gangga, perempuan yang ia lihat dalam mimpi, satu-satunya perempuan yang ia inginkan menjadi istri, dan  mereka bertemu di tepi sungai pada hari senja, dan itu saat paling bahagia di dalam hidup Santanu. Ia melamar perempuan itu, menyanggupi secara enteng syarat yang diajukan, dan membawanya pulang ke istana.


Hari itu Hastina memiliki ratu, perempuan sungai, cantik dan lembut. Ia memberi Santanu cinta dan kegelapan sekaligus, dan lebih banyak kegelapan, dan membenamkan raja Hastina itu ke dalam duka yang tak bisa dipertanyakan. Sumpahnya kepada perempuan itu, yang ia pikir mudah, membuatnya tak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa ia lakukan di dalam kegelapan hanyalah menjadi muram, tidak mengurus diri, dan memperlihatkan kepada siapa saja bahwa ia cepat tua. Rambutnya masih hitam, tetapi wajahnya layu, bergurat, dan kantung matanya menebal. 


Di puncak penderitaan, Santanu akhirnya goyah, dan ia melanggar sumpah, dan segalanya menjadi terang pada hari ia melanggar sumpah. Gangga menjelaskan semua yang dilakukannya, dan gelap menyingkir seketika dari pikiran Santanu, tetapi duka tidak. Ia mempertanyakan tindakan Gangga, dan ia harus memikul duka selanjutnya: Perempuan itu meninggalkannya dan Santanu harus menjalani enam belas tahun yang sunyi.


Selama enam belas tahun itu ia hidup seperti pertapa di istananya. Ia masuk hutan ketika sedih, menyandang busur dan anak panah, tetapi tidak lagi membunuh hewan-hewan. Ia hanya memandangi mereka dan pergi ke tepi sungai menjelang senja, ke tempat ia menemukan Gangga dan kehilangan Gangga.


Enam belas tahun ia berbicara dengan batang-batang pohon seolah berbicara dengan Gangga, dengan batu-batu, dengan kijang di balik gerumbul sana. Sebetulnya ia merintih:


Datanglah, Sungaiku

Datang satu kali

Sebab mataku kehilangan pagi

Telingaku kehilangan nyanyi


Datanglah, Sungaiku

Satu kali. Sebab kemarau pada batu 

Dan dada ini meranggas 

Memanggili arusmu


Hari itu, ketika matahari terbenam di bukit-bukit barat, ia tertidur setelah merintih, di tepian tempat mereka bertemu pertama kali. Dan ia bermimpi arus sungai berhenti mengalir; dan Gangga datang lagi kepadanya, membelai wajahnya, memanggil namanya:


“Santanu.”


Ia terbangun dan mendapati sungai betul-betul terbendung dan Gangga berdiri di hadapannya, seperti waktu itu.


“Aku hampir tidak mengenalimu, Santanu.”


“Aku selalu mengenalimu.”


Gangga tidak menua. Ia tak terjamah waktu. 


Santanu, dengan mata basah dan membiarkan saja air matanya mengalir, melanjutkan ucapannya:


“Terima kasih sudah menemuiku. Semua orang akan bahagia menyambut kepulanganmu. Mereka merindukan ratu mereka kembali.”


Gangga tersenyum, menoleh ke arah barat, mengangkat telunjuknya ke arah matahari yang terbenam.


“Kamu lihat matahari itu, Santanu. Apakah kamu bisa meminta dia kembali sehingga kamu bisa hidup di hari yang sama lagi? Tidak ada yang bisa melakukannya. Tidak ada yang sanggup memutar waktu. Jadi, jauhkan pikiranmu dari apa yang sudah selesai dan jangan berharap akan bisa mengulanginya lagi.”


Dari hulu sungai, seorang bocah remaja berlari-lari di permukaan air, seolah-olah ia berlari di atas tanah, dan ia berhenti di tempat air sungai terbendung. 


“Ibu, aku melakukannya,” kata bocah itu.


“Ya, aku melihatnya,” kata Gangga.


Bocah itulah yang telah membendung arus Gangga. Ia menahan aliran sungai dengan menciptakan jaring dari panah-panahnya, dan air sungai tak mampu melewatinya. Mata sayu Santanu membelalak, tidak percaya pada apa yang dilihatnya.


Gangga memanggil bocah itu, dan si bocah berlari menemuinya, dan dengan suara polos berkata, “Aku membendungnya lagi.”


Ibunya menggamit tangan anak itu dan membawanya ke hadapan Santanu.


“Beri hormat kepada ayahmu, Dewabrata,” katanya.


Remaja itu memandangi Santanu dengan mata hitamnya yang cemerlang, wajahnya menampakkan kebingungan, tetapi sesaat kemudian ia berlutut memberikan hormatnya. Santanu menyentuh kedua bahu anak itu dan mengangkatnya berdiri; mereka sudah sama tinggi.


“Hari ini anak kita berumur enam belas, Santanu. Aku mengantarkannya kepadamu. Ia tahu semua yang harus diketahui oleh seorang pangeran. Resi Wasista sendiri yang mengajarinya kebijaksanaan, Brihaspati mengajarinya keksatriaan, dan Parasurama mengajarinya memanah. 


“Tidak akan ada orang lain yang lebih tepat untuk menggantikanmu kelak, selain Dewabrata. Ia ksatria utama.”


Dewabrata memeluk ibunya kuat-kuat. Lama ia memeluk ibunya, seperti tidak menginginkan perpisahan. 


“Aku akan merindukanmu, Ibu.”


“Kamu tahu caranya jika ingin menemuiku.”


“Aku akan membendung sungai lagi, dan kau harus melihatnya lagi.”


Santanu memandangi ibu dan anak saling berpelukan. Gangga membenamkan wajahnya ke dada Dewabrata. Kemudian mereka saling melepaskan, dengan gerak tangan yang enggan, dan Santanu, dengan pandangan yang kabur oleh air mata, melihat Gangga tersenyum kepadanya, membalikkan tubuh, dan menghilang. Lalu ia merengkuh Dewabrata; dada anak itu basah oleh air mata ibunya.[]

GENDAM NUSANTARA 919

Back to Top