-->

MENULIS UNTUK BELAJAR DAN BERPIKIR

| 11:49 AM |

Tulisanku adalah Aku

Oleh: Rin Agustia Nur Maulida

Sejak kecil, orang mengenalku sebagai seorang anak yang tertutup. Aku jarang sekali berbicara dengan orang yang ada di sekitarku. Ada perasaan kurang percaya diri pada diriku saat berada di antara yang lain. Entah apa yang membuatku merasa kurang percaya diri tersebut.

Sikap ini terus diam dalam diriku hingga aku duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Sikap tertutupku ini tidak hanya pada orang di sekitarku, tapi juga pada keluargaku. Aku sangat sulit mengungkapkan pendapatku. Bahkan berbicara dengan ibuku sendiri, jarang sekali kulakukan.

Awalnya, aku tidak tahu bagaimana caranya agar aku bisa menumpahkan semua isi hatiku. Hingga kudengar teman-teman di kelasku bercerita tentang buku harian mereka. Sejak saat itu, mulai kulakukan kebiasaan menulis di buku harian itu. Ada perasaan lega di setiap aku selesai menuliskan apa yang ada di pikiranku ke dalam buku harian itu. Perasaan yang tidak bisa kuungkapkan kepada orangtuaku, kutuangkan semuanya dalam buku harianku. Apa yang tidak aku kehendaki, juga kutuangkan dalam buku harianku. Hingga pada suatu hari, buku harian itu terbaca oleh ibuku.

Siang itu, aku yang baru pulang sekolah dikejutkan oleh ibu yang sedang menangis di kamarku. Melihatku datang, ibu langsung menghampiriku dan memelukku. Setelah ibu mengucapkan beberapa kata, barulah aku sadar kalau ibu sudah membaca buku harianku. Akhirnya, aku pun turut menangis.

Sejak saat itu, ayah dan ibuku mulai melakukan pendekatan dari hati ke hati padaku. Rasanya nyaman sekali bisa menyampaikan apa yang kupikirkan kepada kedua orangtuaku. Aku juga mulai menjadi orang yang lebih terbuka. Semua berkat tulisan di dalam buku harianku.

 

 

Make Writing a Priority

Oleh: Paramitha Kiky

            Semua berawal ketika aku duduk di bangku SMA. Aku tergabung ke dalam anggota ekstrakurikuler jurnalistik. Saat teman-temanku yang lain memilih ekstrakurikuler bergengsi seperti teater, paskibra, dan tari, aku justru memilih ekskul jurnalistik. Bukan hanya karena aku suka menulis, tetapi juga karena tidak membutuhkan latihan rutin. Ekskul jurnalistik membidangi bagian mading sekolah, majalah sekolah, dan pendokumentasian acara-acara sekolah yang harus dibubuhi dengan tulisan-tulisan yang apik, menarik, dan persuasif.

            Aku suka menulis, tetapi aku belum cukup berani untuk mengikuti lomba-lomba menulis apalagi mengirimkan tulisanku ke media massa. Sampai suatu hari, seluruh anggota tim jurnalistik diwajibkan untuk mengikuti seminar sehari bertajuk Make Writing a Priority. Tentornya adalah alumni dari sekolahku yang dulu juga tergabung dalam ekskul jurnalistik yang kini kuliah di jurusan Sastra Indonesia.

Masih terekam dalam memoriku sampai saat ini, saat ia berkata, “Jangan ragu-ragu mengawali sebuah tulisan, apa yang ada di pikiranmu, tumpahkan saja semuanya ke dalam tulisan. Jangan pedulikan tata bahasamu. Menulis saja. Nanti saat tulisanmu telah rampung, dengan sendirinya kamu akan bisa membenahinya.”

            Dari situ aku semakin rajin menulis. Entah tulisanku bagus atau tidak, yang penting aku menulis. Sampai suatu ketika, aku melihat ada sebuah lomba cerpen yang temanya sangat pas dengan tulisanku. Tanpa berpikir dua kali, aku ikut sertakan cerpenku pada lomba itu. Mengingat aku masih piyik, tentu saja aku tidak berharap namaku muncul sebagai juaranya. Melihat namaku bertengger sebagai salah satu peserta saja sudah membuatku bangga pada diriku sendiri.

Sampai tiba saatnya pengumuman pemenang, entah siapa yang telah mendoakanku, namaku terpampang menduduki juara 3. Unbelieveable. Dari situ aku semakin semangat untuk mengembangkan tulisanku dan menjadikan menulis sebagai sebuah prioritas.


.

I Love Sastra Indonesia

Oleh: Winda Aulia Saad

Bahasa Indonesia. Pelajaran yang paling aku senangi sejak duduk di kelas empat SD. Semua hal yang berhubungan dengan kosa kata, kalimat, paragraf, dan masih banyak lagi, adalah hal yang paling aku sukai selain pelajaran hitung-menghitung Matematika.

Di saat naik ke kelas enam SD, pikiran favoritku pun bertambah lagi dengan yang namanya “Sastra Indonesia”. Hobiku yang mulai gemar membuat cerpen maupun cerita novel membuatku semakin terpancing untuk menjadi seorang penulis terkenal. Ya, itulah cita-cita terbesarku mulai dari saat itu.

Beberapa tahun berlalu. Setelah lulus Sekolah Dasar dan melanjutkan pendidikan di rumah karena sebuah penyakit yang tergolong cukup berat, aku pun lebih banyak menghabiskan waktuku di depan laptop untuk mengetik apa pun yang ada di dalam pikiranku. Walau dengan keterbatasan gerakku yang semakin lama semakin menyulitkanku untuk mengetik keyboard di laptop, hal itu pun tak pernah membuatku patah semangat untuk terus menulis cerita novel maupun beberapa cerpen yang menghabiskan minggu, bahkan berbulan-bulan waktu hidupku, karena hanya itulah yang bisa kulakukan untuk menggapai cita-citaku.

Mengapa? Karena aku percaya, keterbatasan fisik tidak akan pernah menghalangi seseorang untuk berkarya. Setiap orang memang memiliki kelebihan dan kekurangan mereka masing-masing. Tidak ada yang sempurna, karena yang sempurna itu hanyalah Sang Pencipta. Bagaimanapun parahnya rintangan yang bisa saja menghalangi, tetap saja jika kita masih bisa melakukan sesuatu hal dengan niat yang baik, pasti akan dapat tercapai.

Bagiku, menulis sudah menjadi bagian dari diriku. Aku bisa dengan mudahnya mencurahkan semua isi hati maupun pikiranku hanya dengan menulis. Bisa dibilang, curhat sambil menyalurkan hobi dan bakat. Dan seiring berjalannya waktu, aku pun dapat merasakan keajaiban di balik itu semua. Aku bisa menjadi lebih bersemangat saat menemukan ide-ide baru melalui buku-buku yang aku baca. Tanpa menulis, mungkin aku tidak akan pernah menemukan semangat itu. Karena aku yakin, jika berusaha dengan giat, pasti hasilnya tak akan pernah menjadi sia-sia.

***

Biodata Penulis

Nama lengkap/pena: Winda Aulia Saad. TTL: Dili, Timor Timur 19 Februari 1995 (17 tahun). Bisa dihubungi melalui FB: Aulia Indah Ompe’na Saad (Winda Aulia Saad), twitter: @auliasaad, dan blog: lhianaaulia.wordpress.com

GENDAM NUSANTARA 919

Back to Top