-->

5. Lelaki yang Sumpahnya Mengerikan

| 12:00 AM |

 MAHABHARATA

Oleh: A.S. Laksana



Kusir baru selesai memberi makan kuda ketika Dewabrata datang pagi-pagi ke rumahnya, tak jauh dari istal, dan menanyakan kejadian apa yang membuat raja mengurung diri dan menjadikannya orang tua yang melamun sepanjang hari. Lelaki itu diam beberapa waktu. Ia tahu, sebagaimana semua orang di istana tahu, raja sangat mencintai putranya, dan selama empat tahun sejak Dewabrata kembali ke istana, raja adalah ayah yang bahagia.


“Ceritakan, Paman,” kata Dewabrata ketika lelaki itu tidak segera menjawab.


“Saya tidak berani, Tuan,” kata kusir itu. “Apakah bisa saya bercerita tanpa izin dari raja?”


“Wajib. Jika kamu menyayangi raja, kamu wajib menceritakannya kepadaku, sebab raja tidak mau bicara.”


“Kalau raja sendiri tidak bicara, saya tidak berani lancang bicara.”


“Raja sedang punya masalah, aku tahu. Biasanya dia akan menceritakan apa saja kepadaku, panjang lebar tentang hutan, gunung, langit, tempat-tempat yang dia kunjungi, kisah-kisah leluhur kami—apa saja dia ceritakan kepadaku.“


“Saya tahu, Tuan. Baginda sangat menyayangi Tuan.”


“Tapi raja menjauhiku sekarang.”


“Bukan Tuan penyebabnya.”


“Apa pun penyebabnya.” 


“Saya yakin Baginda tidak berubah terhadap Tuan.”


“Jadi kamu tidak ingin aku tahu masalahnya?”


“Tuan—“


“Jika raja meninggal karena sedih yang berkepanjangan, aku akan menyalahkanmu.”


Terdesak oleh ucapan Dewabrata, kusir itu akhirnya menceritakan pertemuan raja dengan Satyawati di tepi Yamuna, dan itu tindakan yang nanti ia sesali: Seharusnya ia tidak menceritakannya. Selesai kusir bercerita, Dewabrata berkata:


“Bawa aku ke sana, Paman, ke tempat kesedihan ayahku bermula, agar aku bisa  memperbaikinya. Kita berangkat sekarang.”


*


Harum tubuh Satyawati sudah tercium oleh Dewabrata jauh sebelum kereta tiba di tepian yang mereka tuju, dan kian kuat aroma itu ketika mereka tiba di sana dan Dewabrata turun dari kereta.


Satyawati duduk di atas perahunya, cantik dan gelap dan harum seperti bunga liar, memandangi dua lelaki turun dari kereta, yang satu kusir dan yang satu mirip Santanu, tetapi jauh lebih muda dan sangat tampan. “Tuan hendak menyeberang?” katanya ketika mereka sudah di hadapannya.


Dewabrata menjawab tidak, tanpa berhenti melangkah. Saat itu juga ia bisa memahami mengapa ayahnya sering melamun sejak pulang dari Yamuna. Ia sendiri merasakan jantungnya memukul lebih cepat dan arus darahnya sedikit kacau ketika mencium harum tubuh perempuan itu dari jarak dekat. Kusir menunjukkan kepadanya gubuk nelayan di kelokan sungai, dan Dewabrata mempercepat langkahnya, dan di gubuk itu ia menjumpai si nelayan sedang duduk mengunyah sirih. Kulit lelaki itu sama gelap dengan kulit putrinya.


“Aku datang karena kudengar kamu menolak lamaran ayahku,” katanya.


Lelaki itu mengatur duduknya dan meludahkan cairah merah ke tempat pembuangan dan menjawab tamunya dengan suara tenang:


“Saya tidak menolak, Tuanku. Meskipun Prabu Santanu mungkin terlalu tua untuk putriku, saya tidak menolak—“


Nelayan tua kurang ajar. Dewabrata menenangkan dirinya. Ia datang untuk menyelesaikan masalah ayahnya, membantu ayahnya mendapatkan perempuan yang diinginkannya, bukan untuk membuat dirinya terpancing oleh ucapan nelayan kurang ajar yang mengatakan ayahnya terlalu tua.


“Lalu apa yang membuat ayahku tidak bisa membawa putrimu?”


“Saya punya permintaan dan saya pikir tidak berlebihan seorang ayah memiliki permintaan kepada lelaki yang melamar putrinya. Tapi Prabu Santanu tampaknya tidak sanggup memenuhinya.”


“Katakanlah.”


“Saya tidak yakin Tuanku ingin mendengarnya.”


“Aku ingin mendengarnya.”


Kusir, yang duduk di belakang Dewabrata, tampak gelisah mendengar percakapan itu. Ia seperti mengkhawatirkan sesuatu dan sorot matanya memancarkan kebencian kepada si nelayan.


"Saya tidak menginginkan apa pun untuk saya sendiri,” kata nelayan itu. “Tuan belah dada saya, Tuan akan melihat hati saya bersih dari keinginan untuk diri sendiri.”


“Pak Tua, hatimu urusanmu. Sekarang katakan saja syarat yang kamu ajukan kepada ayahku.”


“Saya bilang kepada Prabu Santanu, ‘Silakan bawa putri saya, Tuan, asalkan Tuan berjanji jika putri saya melahirkan anak lelaki, anak itulah yang kelak menggantikan Paduka menjadi raja.’”


Dewabrata berdiri menatapnya. Lelaki itu tampak tidak nyaman setelah mengatakan syaratnya di hadapan putra mahkota Hastina, orang yang akan kehilangan hak jika Santanu menyanggupi permintaannya. Dengan suara yang melemah dan seperti berbicara kepada dirinya sendiri, ia buru-buru menambahkan: “Tapi tentu saja Prabu Santanu tidak setuju. Sebagai ayah dia pasti mencintai putranya, sebagaimana saya mencintai putri saya.”


“Dengarkan aku, Pak Tua.” Dewabrata mengangkat tangannya. “Aku Dewabrata, yuwaraja Hastina, bersumpah melepaskan hak atas tahta leluhurku. Anak lelaki putrimulah yang kelak menjadi raja Kuru.”


Wajah kusir memucat oleh sumpah itu. Ia seperti tak ingin mempercayai apa yang baru saja didengarnya, dan ia menyesali dirinya sendiri karena telanjur menceritakan kepada Dewabrata apa yang membuat raja Santanu menderita, dan sekarang Hastina kehilangan putra mahkota. Putra Gangga, ksatria utama yang dicintai rakyat Hastina, merelakan haknya atas tahta demi membahagiakan ayahnya. 


Ia semakin benci kepada si nelayan, yang tampaknya juga tidak menduga akan mendengar Dewabrata bersumpah seperti itu.


“Prabu Santanu beruntung memiliki putra sepertimu, Tuanku,” kata si nelayan. “Saya percaya Tuan sanggup merelakan apa saja demi kebahagiaan ayah Tuan. Tuan berhati mulia. Tapi saya tiba-tiba khawatir terhadap keselamatan Satyawati dan keturunannya kelak, sebab para ksatria seperti Tuan dan ayah Tuan sudah biasa berlaku buruk terhadap kaum jelata seperti kami.”


Dewabrata meraba-raba arah pembicaraan dan kaget melihat mata lelaki itu memancarkan kebencian.


“Saya tidak meragukan kemuliaan hati Tuan,” katanya. “Tapi saya tidak yakin apakah keturunan Tuan kelak akan semulia Tuan. Tuan seorang ksatria hebat. Saya sudah mendengar banyak cerita tentang keperkasaan Tuan. Putra-putra Tuan nantinya akan mewarisi keperkasaan Tuan. Sementara cucu-cucu saya, meskipun mereka juga putra-putra raja, tetapi ibu mereka putri nelayan. Putra-putra Tuan akan memandang rendah mereka dan ibu mereka dan menyingkirkan mereka dari istana untuk merebut tahta kerajaan. Bagaimana saya bisa yakin hal itu tidak akan terjadi, Tuan?”


“Tidak akan pernah terjadi,” kata Dewabrata.


Lalu ia meraih lengan si nelayan dan menarik orang tua itu keluar dari gubuk. Di tanah terbuka, di bawah matahari, Dewabrata mengangkat tangan dan menengadahkan wajah ke langit dan berkata dalam nada suara dan kepastian yang membuat kusir gemetar: 


"Aku, Dewabrata, bersumpah di hadapan kalian semua dewa bumi dan langit, demi segala yang suci bagiku, demi guruku Parasurama, demi ibuku Gangga, dan demi dharma abadi, bahwa aku akan membujang sepanjang hidupku!"


Sunyi sesaat. Bumi dan langit seperti terpana oleh sumpah Dewabrata. Lalu musik mengalun samar-samar mengiringi hujan bunga dari langit, bunga-bunga cahaya, turun hanya sebentar, tetapi harumnya bertahan lebih lama, menenggelamkan harum tubuh Satyawati. Lalu dari ketinggian langit, dari perut bumi, dari arus sungai, dari hembusan angin, dari pepohonan dan bebatuan, mulut-mulut yang tak tampak menyerukan sebuah nama: Bhisma! Bhisma! Bhisma!


Semesta memberi nama baru bagi putra Gangga, Bhisma, sebab sumpahnya begitu keras, begitu mengerikan—sumpah yang tak akan pernah ia langgar selamanya.


Kusir menjatuhkan diri di hadapan Bhisma, matanya basah dan tulang-tulangnya seperti melemah. Nelayan tua menyerahkan Satyawati. “Ini ibu barumu, Pangeran, bawa ia kepada ayahmu.” Orang tua itu menghilang ke dalam gubuknya tanpa mengucapkan selamat tinggal dan ia mati hari itu juga menjelang tengah malam.


*


Di istana, Bhisma mengantarkan Satyawati ke kamar permaisuri dan kemudian setengah berlari ke kamar ayahnya. “Buang kesedihan dari pelupuk matamu, Ayah,” katanya. “Aku membawa dia kepadamu.”


Santanu, tidak paham apa yang diucapkan anaknya, menanyakan, “Siapa yang kamu bawa?”


"Satyawati."


"Tapi ayahnya tidak memberikannya, kecuali.... Dewabrata, apa yang kamu lakukan?"


"Hanya melepaskan tahta dan membujang selamanya, tidak ada artinya dibandingkan kebahagiaan dan nyawa ayahku. Aku tidak mau ayahku mengurung diri dan mati sedih.”


Santanu merasa kepalanya berat dan kakinya lemah dan dunia sekelilingnya berputar ketika mendengar Bhisma menceritakan pertemuannya dengan si nelayan. Ia merasa bersalah telah menyebabkan putra Gangga tak akan pernah naik tahta.


“Aku terpukau pada Satyawati; aku senang kamu membawa dia untukku. Tapi aku akan malu selamanya kepadamu. Kamu seperti ayah bagiku, dan aku seperti anakmu. Jika kamu tidak keberatan, aku lebih suka kamu mengembalikan dia ke ayahnya.”


Bhisma menggeleng.


“Apakah Raja Santanu lebih suka anaknya mengingkari sumpah?”


“Aku tahu itu mustahil bagimu. Kamu kuat seperti ibumu, sedangkan aku manusia lemah. Tapi aku juga punya ‘Punya’, Dewabrata, yang kudapat dari selibat selama dua puluh tahun. Maka, untuk pengorbanan yang kamu lakukan demi aku, aku memberkati putraku: Ajal tidak akan datang kepadamu kecuali kamu sendiri menghendakinya; kamu sendiri yang menentukan waktunya dan bagaimana caranya.”


Bagitulah, Santanu akhirnya menikahi gadis nelayan Satyawati dalam pesta dan perayaan yang megah dan rakyat menggunjingkan ratu baru mereka. Mereka tidak rela ada perempuan lain, meskipun tubuhnya harum, mengisi tempat Gangga, dan mereka sedih mendengar Dewabrata tidak akan pernah menjadi raja mereka.[]

GENDAM NUSANTARA 919

Back to Top